Menghela napas sebentar.
Semuanya seperti de jàvu.Titik terendah dari diri ini muncul kembali setelah beberapa tahun menghilang dan membuat segalanya menjadi berantakan.
Mencoba untuk mengontrol agar orang lain tidak menyadari perubahan yang terjadi dalam diri, namun, seperti sebuah bom waktu, meledak seketika.
Segala hal yang saya coba bangun kembali, hancur begitu saja.
Bertahun-tahun mencoba merapikan semuanya, mengembalikan semuanya ke posisi semula, tapi apa? Berantakan.
Benar-benar jatuh ke titik paling rendah.
Berhari-hari dihantui rasa takut, khawatir dan kecewa.
Takut nggak bisa dipercaya oleh orang lain, lagi.
Khawatir dengan pandangan orang lain tentang diri saya, dan
Kecewa atas pemikiran-pemikiran orang lain terhadap saya hingga membuat kepercayaan diri menurun.
Saya bukan tipe orang yang apa-apa harus diutarakan, harus dijelaskan, harus diceritakan. Jujur, untuk menceritakan rasa sakit yang saya alami pada orang terdekat saja sangat sulit. Bukan tidak percaya dengan orangnya, letak permasalahannya ada pada saya yang tidak bisa membuka diri. Hingga pada suatu waktu, terjadi kesalahpahaman yang membuat diri saya semakin jatuh tersungkur.
Tidak semua bisa disalahkan. Baik itu kamu, saya ataupun kita semua memiliki pembenaran yang tidak bisa untuk disalahkan.
Opinimu yang seperti apa dan bagaimana, tidak ada yang salah. Karena beropini adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang. Saya menghargai itu.
Entah kamu akan menganggap saya seperti apa sesuai dengan pemikiranmu, saya akan tetap menerimanya karena saya tidak begitu peduli.
Kamu tahu nggak sih? Bertahun-tahun krisis kepercayaan diri, membangun semuanya secara perlahan, kemudian tiba-tiba dihancurkan kembali dengan satu kalimat yang kamu anggap sebagai sebuah 'candaan'. Saya hancur, untuk kamu tahu.
Kalau kamu bilang saya ini baperan, terlalu masukin ke hati, terserah. Saya tidak peduli. Saya hanya peduli pada diri dan perasaan saya.
Tolong, jangan jadikan kata 'baperan' sebagai tameng. Karena kamu nggak pernah tahu hal menyakitkan apa yang pernah dialami oleh seseorang yang kamu bilang 'baperan'.
Kamu sadar nggak sih kalau kita ini adalah orang asing yang nggak mengenal satu sama lain? Tapi, kenapa lisanmu itu tidak bisa kamu batasi untuk tidak menyakiti orang lain?
Saya sampai berpikir, apakah kamu juga akan seperti itu pada orang terdekatmu? Atau apakah kamu pernah melakukan hal yang sama pada orang lain seperti yang kamu lakukan terhadap saya?
Pikiran saya sudah berpetualang ke segala arah.
Namun, untuk tidak memiliki perasaan tidak suka dan benci terhadap kamu, maaf saya belum bisa.
Hati saya masih belum bisa menerima.
Kata-katamu menciptakan trauma yang tidak bisa saya maafkan.
Lain kali, kalau mau becanda, dipikir-pikir dulu, ya.
Karena nggak semua yang kamu anggap candaan itu murni candaan dan secara nggak sadar, kamu bisa menyakiti orang lain.
Terlepas dari itu semua, saya tidak akan membalas dengan hal yang sama.
Saya hanya bisa mendoakan agar lisanmu tidak melewati batas yang dapat menyakiti orang lain (lagi).
28 Januari 2021,
Cha