Cha Disini

Cari aku, jika tulisan-tulisanku membuatmu merasa lebih baik.

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us



Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir di penghujung tahun 2019.
Sudah sejauh mana goals kamu yang tercapai?
Sudah seberapa sering kamu mendapat pujian?
Sudah seberapa kuat kamu menghadapi berbagai ujian?

Tahun 2019;
Menurutku tahun ini seperti wahana roller coaster. Kenapa aku menyebutnya seperti roller coaster? Karena di tahun ini, ada banyak sekali fase naik dan turun kehidupan yang aku hadapi.
But, well, Tuhan Maha Baik. Atas firmannya dalam surah Al-Insyirah, aku merasa seperti selalu diberi kemudahan dalam menjalani segala macam ujian hidup yang hampir membuatku berasa seperti di ujung tanduk.

Tahun 2019;
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil.
Ada tanggung jawab baru yang lebih besar yang harus dipikul.
Ada banyak karakter baru dalam diri orang lain yang kutemukan dan sering membuatku menjadi tidak nyaman.
Ada banyak ketidaksesuaian antara diriku dan orang lain yang membuatku sering merasa tertekan.

Tahun 2019;
Seperti tahun-tahun sebelumnya, namun, tahun ini Tuhan banyak mengajariku kembali mengenai arti keikhlasan dan kepedulian.

Betapa bersyukurnya aku dikelilingi banyak orang-orang baik yang membantuku menyelesaikan kisahku dalam 365 hari ini dengan baik. Sebagai penutup kisah pada halaman ke-365 ini, aku ingin berterima kasih pada orang-orang hebat yang berhasil menyempurnakan kisah ini dengan akhir yang mengagumkan.

Terimakasih atas segala kenyamanan, kebaikan, kebahagiaan yang telah diberikan.
dan
Maaf untuk segala kesedihan, kekesalan dan keegoisan yang telah aku tumpahkan pada semua orang yang terlibat dalam kisahku selama 365 hari ini.

Semoga, kita, aku dan kamu, bisa terus berjalan beriringan dan bergandeng tangan dengan tujuan yang sama yaitu; menemukan kenyamanan tanpa harus beradu keegoisan.


31.12.2019


With love,
Cha

source: twitter.com

Seiring usia yang bertambah, aku tidak lagi ingin mengemis rasa peduli pada orang lain, sekalipun itu orang-orang di sekitarku.
Ada banyak perasaan canggung yang aku rasakan saat orang lain tiba-tiba peduli denganku, dengan perasaan yang aku rasakan, bahkan dengan hidupku.
"Sungguh, apakah itu benar-benar rasa peduli yang datang dari hati?", tanyaku dalam hati.

Ketika banyak peduli yang datang menghampiri, aku selalu merasa khawatir.
Khawatir jikalau peduli itu tidak benar-benar nyata.
Khawatir jikalau peduli itu memiliki maksud yang tersembunyi.
Bahkan, untuk menerima rasa peduli dari orang lain, aku perlu meyakinkan hatiku bahwa peduli yang akan aku terima datang dari hati yang tulus.

Melewati beberapa fase kehidupan itu tidak mudah.
Sudah berapa orang yang kutemui hanya berlagak manis di depan, namun di belakang justru membicarakan segala kebohongan mengenai hidupku yang diapun tidak begitu memahami.
Krisis kepedulian yang saat ini melanda membuatku tidak lagi memaknainya sebagai sesuatu yang amat berarti.
Kadang, aku menyerah dengan keadaan dan lebih memilih peduli sepenuhnya pada diri sendiri.

Memang, semua bualanku ini tidak begitu penting untuk kamu terima dan mengerti.

Akan tetapi, sadarkah kamu jika kamu itu minim rasa peduli bahkan pada diri sendiri?
Membicarakan kehidupan orang lain begitu amat kamu sukai kemudian menilainya seperti hidupmulah yang paling baik, tidakkah kamu merasa hidupmu itu minim rasa peduli?
Kamu banyak bicara mengenai hidup orang lain, namun jika disuruh untuk berbicara mengenai hidupmu sendiri, kamu diam membisu.

Lantas, apa yang selama ini kamu pahami mengenai arti peduli jika bicaramu saja tidak benar-benar seperti orang yang memiliki rasa peduli terhadap orang lain?

091119,

Cha



Sekalinya memberikan kepercayaan pada seseorang, aku benar-benar memberikan rasa percayaku sepenuh jiwa dan setulus hati. Karena bagiku, tiada yang lebih baik ketika memberikan sebuah kepercayaan pada seseorang seharusnya dilakukan dengan hati yang tulus dan jiwa yang menerima secara utuh.

Namun, suatu ketika kepercayaanku dilunturkan oleh satu dan lain hal. Ketika kepercayaanku dihancurkan oleh satu hal yang amat menyakiti hati. Ketika kepercayaanku dianggap sebagai omong kosong belaka. Begitu mudahnya mengatakan bahwa rasa percayaku padamu hanya sebatas tulisan di atas kertas yang bisa dihapus kapan pun kamu ingin. Sungguh, tidak bisa diterima akal sehat.

Ibarat air yang diisi di dalam bejana yang berlubang, sia-sia. Rasa percaya yang aku timpakan padamu kau anggap begitu tak berarti. Kehilanganmu masih bisa aku terima, namun hancurnya kepercayaanku padamu yang menyayat hati tidak dan tidak akan pernah bisa aku terima.

Tidakkah kamu merasa hancur dan sakit hati? Orang yang begitu kamu percaya, menghancurkannya dalam sekejap mata. Meluluhlantakkan seluruh janji-janji yang dibangun bersama di atas kepolosan diri masing-masing.

Hancur.

Sirna.

Hilang.

Itu yang hatiku rasakan. 

Lalu, kini kamu ingin mengambil kembali rasa percaya yang pernah aku tarik darimu? Tidak semudah itu. 

Pernah nggak kamu berpikir barang sejenak tentang perasaanku yang selalu kamu khianati?
Pernah nggak kamu berpikir barang sejenak tentang janji-janji yang nggak pernah kamu tepati?
Pernah nggak kamu berpikir tentang ketulusanku dalam mempercayaimu sebagai seorang yang amat berarti dalam hidupku?
Pernah nggak?

Well done.
Cukup sekali aku menaruh rasa percaya sepenuhnya dengan seseorang. 
Cukup sekali aku mengutuk diriku untuk tidak dikhianati kembali. 
Cukup sekali aku menelan janji-janji yang tidak berarti.
Cukup sekali dan itu denganmu. 
Tidak akan pernah lagi, wahai kamu.

Selamat menemukan rasa percaya itu kembali, pada orang lain. 
Semoga kamu tidak mengkhianatinya (lagi).

010719,

Cha




Hi
It’s me, Cha.
Hm.. i just want to say... 
“Thank you, Thank you for everything that you’ve ever done to me.”

Sudah berapa lama?
Bertahun-tahun, ya, agaknya
Menyimpan perasaan yang berlebihan
Memendam kerinduan tanpa ada balasan
Hingga
Mengubur setiap jejak kenangan yang kamu ciptakan, sendirian

Lalu,
Hari ini
Hadirmu, sungguh tanpa ada kebetulan
Semuanya pasti ada campur tangan dari Tuhan
Membuatku tiba-tiba lupa tentang semua kesakitan yang pernah diberikan

Aku pun bertanya-tanya,
Apakah semua kenangan pahit harus dibalas pahit juga?
Apakah rasa sakit harus dibalas rasa sakit juga?
Dan,
Apakah luka harus dibalas dengan luka juga?
Pikirku, tidak.

Lantas, bagaimana semestinya?
Dihadapannya, aku menguatkan hati dengan tersenyum padanya
Lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengatakan, “Terima Kasih.”
Apakah itu cukup atas semua penderitaan yang aku relakan dengan keikhlasan?
Bagiku, sudah lebih dari cukup.

Berkatnya,
Aku dapat banyak pelajaran yang tak terlupakan
Keikhlasan dalam melepaskan segala hal yang bukan milikku, termasuk kamu
Kesabaran dalam menjalankan segala ujian yang menghujamku
Kerelaan untuk menerima suratan takdir yang diciptakan Tuhan antara aku dan kamu
Dan yang terakhir
Membuatku menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya



03052019,

Cha



Pembahasan kali ini lumayan berat ya,
readers. Topik yang akan aku bahas ini sudah lama terpikirkan, berdasarkan pengamatan dan fakta-fakta yang aku dapatkan dan baru bisa aku curahkan sekarang dalam tulisan ini. Tentu saja, topik tentang ‘menikah’ sangat viral dikalangan anak zaman now. Trend ‘menikah muda’ juga masih menjadi berita terhangat di telinga anak muda. Young Married? Are you sure with that?

Terkadang, aku benar-benar bosan mendengar anak-anak muda seusiaku berbicara tentang menikah, menikah muda, i mean. Bukan karena aku membenci atau tidak menyukai syahdunya sebuah pernikahan, bukan. Aku menyukainya, menyaksikan senyum membuncah dua insan yang dipertemukan dengan berbagai cara tak terduga. Aku hanya muak dengan anak-anak muda yang selalu berbicara bahwa menikah adalah solusi dari pahitnya menjalani kehidupan, dari lelahnya menjalani pendidikan yang bahkan belum selesai ia jalani dan dari hambarnya kesendirian tanpa ada seseorang yang menjadi sandaran. Menikah itu bukan solusi dari segalanya, dear. Menikah itu bukan hal yang mudah untuk dijalani apalagi orang yang ngebet banget pengen nikah udah kayak dunia mau kiamat besok sedangkan pasangannya nggak ada, gimana ceritanye tuh? Ehehe. Menikah itu.. Menikah itu... tak bisa kamu definisikan bahwa itu bisa menjadi solusi atas hidupmu yang penuh dengan ujian, permasalahan atau apapun itu.

Dear,
Ketika kamu menikah, kamu tidak lagi berbicara tentang dirimu sendiri tapi tentang kamu dan juga dia, ada ‘kami’ yang terselip diantara keduanya.
Ketika kamu menikah, urusanmu tidak lagi menjadi milikmu dan urusan dia; yang menjadi pasanganmu, menjadi milikmu juga, itu berarti kamu memegang kendali atas dua urusan yang boleh jadi tidak sesuai dengan kesanggupanmu dalam menyelesaikan.
Ketika kamu menikah, kamu tidak hanya dihadapi permasalahan yang disebabkan oleh dirimu sendiri, tetapi kamu akan mengahadapi permasalahan yang lebih besar dari itu, masalah antara dua keluarga yang berbeda pandangan dan prinsip hidup.
Ketika kamu menikah, kamu tidak lagi hidup seorang diri, tetapi bersama orang lain. Sudah siapkah kamu akan hal itu? Sudah siapkah kamu menyatukan dua pikiran, dua pandangan dan dua prinsip yang berbeda?

Dear,
Sudah siapkah kamu untuk membagi hidup yang benar-benar hanya privasimu kepada orang lain?
Sudah siapkah kamu melangkah ke arah yang lebih serius sementara dirimu masih terbelenggu dalam dunia kekanak-kanakanmu?
Sudah siapkah kamu untuk mendengar selentingan omongan orang lain tentang hidupmu yang mengalami perubahan?
Sudah siapkah kamu untuk mengurus orang lain yang terkadang kamu juga banyak mengeluhnya ketika mengurusi keperluanmu sendiri?
Sudah siapkah kamu untuk membina keluarga yang pastinya akan ada banyak kejutan menghampirimu?
Sudah siapkah kamu menerima segala kekurangan, sifat yang kamu tidak temui pada dirinya sebelumnya?
Sudah siapkah?

Dear,
Usiamu masih sangat muda. Mentalmu masih dalam kondisi yang labil, masih dilingkupi kebingungan untuk menentukan sebuah pilihan yang akan membawa masa depanmu ke arah mana. Perasaanmu yang kerap goyah juga menjadi hal yang harus dipertimbangkan ketika kamu hendak memulai kehidupan baru dan bertemu orang baru.
Usiamu masih sangat muda. Perbanyak kegiatan produktif bersama teman-teman seusiamu, berbagi pengalaman hidup, itu akan mendewasakan pikiranmu.
Usiamu masih sangat muda. Kedua orang tuamu masih membutuhkanmu, kamu juga masih membutuhkan keduanya. Kamu membutuhkan dorongan semangat, motivasi dari mereka dan kedua orang tuamupun membutuhkanmu sebagai seorang yang berhasil membuat bangga.

Dear, aku berikan sebuah pencerahan.
Menikah itu tidak mudah, apalagi menikah muda. Bukan bermaksud menyinggung, tetapi hanya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita-kita yang masih berusia amat muda, yang masih hidup di atas pengorbanan orang tua yang belum bahkan tidak akan pernah bisa kita membalas seluruh pengorbanan keduanya. Usiamu berapa?  18 tahun? 19 tahun? 20 tahun? Lalu, kamu ingin menikah muda? Mimpi-mimpimu bagaimana? Perjalanan keliling dunia yang kamu rencanakan dengan usahamu sendiri bagaimana? Segala sesuatu yang kamu impikan, rencanakan, agendakan akan berubah ketika kamu menikah. Mimpi kamu yang itu, akan berubah haluan menjadi memprioritaskan hidupmu yang telah terisi oleh orang lain. Rencanamu yang ini, tidak akan terlaksana sesuai rencana. Sungguh, aku hanya memberikan sebuah pencerahan dan tidak bermaksud membuatmu menyerah atas niat baik (re: menikah) yang akan kamu lakukan. Aku hanya ingin mengubah pola pikirmu, tidak memaksakan kehendak.

Tolong digaris bawahi, aku tidak membenci sebuah pernikahan. Aku hanya ingin mengubah mindset kita-kita yang masih tergolong sangat muda ini untuk berpikir terbuka bahwa menikah muda itu bukan satu-satunya solusi untuk menyudahi segala macam hal yang kamu anggap tak bisa terselesaikan. Justru, ketika kamu menikah, akan ada berbagai jenis masalah yang datang menghampiri. Bukan satu atau dua masalah, tetapi lebih dari itu. Kamu sanggup nggak menerimanya? Kamu siap nggak menyelesaikan semuanya? Jika jawabanmu adalah tidak, maka fokuslah untuk menata hidupmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan ada skenario indah yang Tuhan rancang untukmu, doa dan ikhtiar adalah obatnya. Tetapi, jika jawabanmu adalah iya, maka silakan lakukan niat baikmu itu. Anggaplah, jodohmu datang dengan paket express dari Sang Maha Pencipta.

Well, roda kehidupan akan terus berputar bukan?
Jangan hanya karena kamu lelah menjalani pendidikan, kamu ingin menyerah dengan menikah. Tolong, jangan. Ayah dan ibumu lebih dari jungkir balik mencari biaya untukmu agar kamu bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang yang beliau-beliau sangat harapkan kamu mampu menyelesaikannya. Ayah dan ibumu menaruh harapan yang amat besar padamu, dear.
Jangan hanya karena kamu tidak sanggup menyelesaikan masalahmu sendirian, kamu ingin menyerah dengan memilih untuk menikah. Tolong, jangan. Kamu punya sahabat, teman, keluarga yang menjadi pelipur laramu. Tidak semua masalah tidak dapat diselesaikan. Kalau kamu merasa tidak sanggup, ceritakan pada sahabatmu, temanmu dan keluargamu, meskipun mereka hanya sekedar membantu dalam konteks mendengarkan semua masalahmu, setidaknya bebanmu sedikit berkurang. Lebih dari mendengarkan masalah-masalahmu merupakan sebuah bonus yang kamu dapatkan dari kuatmu bertahan untuk tidak menyerah pada hidupmu.

Jadi, bagaimana? Pendirianmu masih keukeuh? Tak apa, aku hanya menyampaikan apa yang selama ini aku amati dan simpan.

The last, kita punya jalan hidup masing-masing berbeda. Terkadang ada yang lebih dulu bertemu jodoh sebelum bisa merealisasikan mimpi-mimpinya, ada yang terlambat sedikit dan bisa menyelesaikan bucket list mimpi dan harapannya, ada pula yang bertemu jodohnya di surga. Takdir setiap orang hanya Tuhan yang tahu. Tak perlu kita menerka-nerka, menebak seperti apa takdir kita esok hari. Kita hidup untuk hari ini, hari esok kita tidak tahu akan seperti apa.


19042019
With much love,

Cha


Berpisah secara baik-baik itu nggak ada, hanya istilah saja; istilah bagi hati mereka yang terlanjur dibuat patah oleh prinsip, ego dan kepercayaan yang nggak sejalan. 
Banyak sekali pasangan yang ketika berpisah, mereka mengumumkan pada semua orang bahwa mereka berpisah secara baik-baik. 
Percaya nggak kalau mereka berpisah secara baik-baik? 
Kalau aku, nggak percaya. 
Fisik memang terlihat baik-baik saja, tapi bagaimana dengan hati? Tidak ada yang tahu. 
Boleh jadi, ketika mereka berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang, hati mereka tengah dirundung mendung. 
Boleh jadi, ketika mereka berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang, mereka tengah menguatkan hati dengan mendoktrin pikiran mereka dengan kalimat "Kamu kuat wahai hati, kita bisa melewati ini semua, kita akan baik-baik aja..".

Berpisah secara baik-baik itu nggak ada, nggak pernah ada. 
Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan; segalanya berakhir dengan kesedihan, keterpurukan dan kehilangan. 
Apapun yang terjadi dalam sebuah hubungan yang merujuk pada sebuah perpisahan, ujungnya pasti tak mengenakkan; kehilangan seseorang yang paling berharga.

Aku tahu, nggak pantas sekali untuk membicarakan tentang makna sebuah perpisahan yang aku sendiri pun sangat tidak menyukainya. 
Pernah mengalami, namun tidak dalam tanda kutip "berpisah secara baik-baik". 
Aku sudah tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang melukai hati. 
Karena bagaimanapun, itu semua sudah menjadi rencanaNya. 
Percuma kalau ingin mengubah haluan, mau memperbaiki keretakan yang terlanjur dibuat, kalau takdirnya sudah akan berpisah ya berpisah. 
Layaknya kaca yang rapuh, pecah berkeping-keping pun sudah tak ada artinya, tak bisa disatukan kembali seperti saat semula.

Berpisah secara baik-baik adalah sebuah omong kosong belaka bagi sebagian orang yang menutupi luka yang menganga di hatinya, bagi sebagian orang yang menutupi kesedihan akan sebuah kehilangan. 
Siapa yang mau melewati fase perpisahan? 
Siapa yang mau mengalami kegagalan? 
Siapa yang mau merasakan pedihnya kehilangan? Tidak ada.

Oleh sebagian orang, cara terbaik untuk menutupi pedihnya hati akan kehilangan adalah dengan mengatakan "kami berpisah secara baik-baik". 
Bukan tak mungkin ketika menepi dari keramaian, dia, mereka, kamu atau siapapun itu yang mengatakan berpisah secara baik-baik, yang memperlihatkan secercah senyuman di hadapan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja, justru dialah yang paling banyak menyimpan rasa sakit yang bertubi-tubi dia dapatkan. 
Percayalah, tidak ada yang namanya berpisah secara baik-baik. Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan, nggak ada manis-manisnya, yang tersisa hanyalah sebuah kekosongan di hati.

02012019,

Cha
Newer Posts Older Posts Home

Tentang Aku

Mau mengenal aku lebih dalam? Buka sosial mediaku, tapi jangan kecewa karna yang aku tampilkan terlihat sempurna tidak ada cela. Barangkali mau sharing atau discuss, boleh dm salah satu sosial mediaku.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Hai, kamu pembaca yang ke

Semua Tulisanku

  • ►  2025 (7)
    • ►  December (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (3)
    • ►  January (1)
  • ▼  2019 (6)
    • ▼  December (1)
      • 2019 dengan Segala Keriuhannya
    • ►  November (1)
      • Care? Are you sure?
    • ►  July (1)
      • Rasa Percaya
    • ►  May (1)
      • Terima Kasih
    • ►  April (1)
      • Young Married? Are You Sure?
    • ►  January (1)
      • Berpisah Secara Baik-Baik, Benarkah?
  • ►  2018 (14)
    • ►  October (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)

Labels

  • Article
  • Experience
  • Motivation
  • Part of My Feeling
  • Poetry
  • Random
  • RizkaTalk
  • SelfHealingSeries

Paling Sering Diceritakan

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates