Cha Disini

Cari aku, jika tulisan-tulisanku membuatmu merasa lebih baik.

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us



Jadi, gini..

Kamu tidak perlu cemas atas perkataan orang lain yang terkadang menyakitkan untuk kamu dengar.
Sakit hati itu, boleh.
Tapi ingat, hatimu harus tetap baik-baik saja.

Kamu juga boleh bersikap egois dan apatis.
Tapi ingat, sesama makhlukNya kamu harus tetap saling menghargai.
Kamu nggak boleh hidup dengan memakan perkataan orang lain.

Kamu itu pintar, untuk orang lain tahu.
Mereka nggak bisa mengataimu dan mencibirmu sesuka hati.
Kenapa?
Karena kamu dan mereka itu sama di hadapan Tuhan.

Sikap yang haus akan pengakuan sama sekali nggak ada nilainya di mata Tuhan.
Kalau merasa nggak suka, ya, cukup dipendam saja.
Toh, sifat paling buruk yang kamu miliki hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu.

Cha


Setelah ini, aku harus bagaimana?

Dalam kondisiku yang sudah penuh luka, bisakah aku memohon padamu untuk kembali?
Bukan kembali datang memberikan kenyamanan lalu pergi lagi, bukan.
Aku hanya memintamu kembali untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan apakah aku salah telah banyak menaruh harapan padamu?

Aku bingung.
Melangkah mundur aku tidak sanggup, melangkah maju juga belum mampu.
Untuk berdiri membenahi keadaan saja rasanya aku tidak memiliki tenaga.
Pengaruhmu terlalu besar buatku.
Kehadiranmu yang secara tiba-tiba membuat nyaman saat lukaku di masa lalu belum pulih sepenuhnya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.

Jujur, kehadiranmu kemarin yang bukan suatu kebetulan tak bisa kupungkiri bahwa aku telah jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya padamu.

Apa aku salah kali ini?
Mencoba melompat dari luka yang sebelumnya sempat kudapat menuju kenyamanan yang menunggu tepat di depan mata.
Mencoba berlari dari kenyataan pahit yang sempat menjadi sandaran menuju setitik harapan baik yang mengandung kebahagiaan.
Apa aku salah?

Setelah berhari-hari memikirkan hal-hal serumit itu, aku semakin meyakini bahwa memang ada yang salah.
Perasaan ini tak seharusnya tumbuh untuk orang yang tidak memahamiku secara utuh.
Rasa nyaman ini tak seharusnya aku terima secara percuma darimu.
Luka yang sebelumnya masih menganga, kini justru menciptakan luka baru yang lebih pedih dan itu karena kehadiranmu.

Aku diam sejenak, lalu menyimpulkan;
Mungkin ini yang dinamakan takdir.
Takdir yang tak pernah sejalan dengan pintalan-pintalan harapan.
Takdir yang tak mempersatukan, namun justru memporak-porandakan.

Setelah ini, aku harus bagaimana?

19.03.20

Cha


Kadang aku berpikir, menghilang itu lebih baik daripada ada tapi tak dianggap olehmu.
Kadang aku juga berpikir, memerhatikanmu dari jauh lebih baik daripada menanyakan kabarmu secara langsung.

Rasanya, aku ingin menyerah. Bukan karena kamu yang tak pernah menganggapku ada. Tapi, karena sudah begitu sering aku mengorbankan perasaan untuk satu orang yang tak memiliki rasa menghargai.

Aku berlebihan? Katakan saja begitu. Aku memang menaruh harapan yang lebih besar, lebih besar dari sebuah ekspetasi yang pada kenyataannya sangat menyakitkan.

Sesekali aku ingin bertanya padamu, "kamu menahami konsep tentang memberi dan menerima nggak?"
Kamu memberikan harapan, aku melahapnya.
Kamu memberikan kenyamanan, aku merasa nyaman.
Kamu memberikan celah untukku agar bercerita, aku mengeluarkan seluruh bebanku.
Itu konsep memberi dan menerima yang aku pahami.

Lalu, kamu? Aku tidak yakin kamu memahami konsep itu sepenuhnya.
Buktinya? Kamu menghilang perlahan, layaknya tetesan air hujan yang mengering disinari oleh panas matahari.
Aku tidak yakin kamu memahami dengan betul konsep itu.

Seperti pada saat aku datang menghampirimu, kamu malah diam tak memberiku ruang untuk berbicara.
Aku disini korban, untuk kamu tahu.
Korban atas harapan yang kamu beri terlalu tinggi.
Korban atas kenyamanan yang kamu selalu bagi.

Aku juga, sih yang salah.
Menganggapmu lebih baik dari dia yang sebelumnya pernah menggores luka, tapi ternyata sama saja, malah menambah luka.
Aku juga tidak memiliki potensi untuk terus bersanding disampingmu karena aku sudah bukan prioritasmu.

Setelah ini, aku harus bagaimana?

18.03.20

Cha
Newer Posts Older Posts Home

Tentang Aku

Mau mengenal aku lebih dalam? Buka sosial mediaku, tapi jangan kecewa karna yang aku tampilkan terlihat sempurna tidak ada cela. Barangkali mau sharing atau discuss, boleh dm salah satu sosial mediaku.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Hai, kamu pembaca yang ke

Semua Tulisanku

  • ►  2025 (7)
    • ►  December (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2020 (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ▼  March (3)
      • Jadi, Gini..
      • Setelah Ini, Aku Harus Bagaimana? (Bag. II)
      • Setelah Ini, Aku Harus Bagaimana?
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  October (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)

Labels

  • Article
  • Experience
  • Motivation
  • Part of My Feeling
  • Poetry
  • Random
  • RizkaTalk
  • SelfHealingSeries

Paling Sering Diceritakan

  • Care? Are you sure? Care? Are you sure?
  • 2019 dengan Segala Keriuhannya 2019 dengan Segala Keriuhannya

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates