Cha Disini

Cari aku, jika tulisan-tulisanku membuatmu merasa lebih baik.

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Bersama dengan tulisan ini, kukirimkan sejuta cinta untuk seluruh orang tua di seluruh dunia. Untuk dua orang terbaik, yang senantiasa menjaga putra dan putri mereka tak kenal waktu. Untuk dua orang hebat, yang selalu menjadi sandaran di setiap kegagalan yang dialami putra dan putri mereka. Untuk dua orang apa adanya, yang kasih sayangnya tak pernah pudar untuk putra dan putri mereka.

Baik, aku mulai tulisanku dengan menceritakan siapa diriku dan dari orangtua yang seperti apa aku dibesarkan. Aku, yang kini bukan lagi seorang remaja, yang akan beranjak dewasa beberapa bulan lagi, yang masih hidup di bawah naungan kasih sayang orangtua. Aku bukanlah seorang yang pintar, aku biasa-biasa saja. Prestasi yang kuraih sejak aku memulai pendidikan juga tidak ada yang mencolok. Aku, sungguh orang biasa-biasa saja. Aku bukanlah orang yang hebat dikenal banyak orang, bukan juga seorang yang cerdas. Tapi aku merasa bersyukur dan bahagia atas semua itu, kenapa? Karena aku, memiliki orangtua yang hebat.

Source: Pinterest (Duce Alma) 

Karena aku, memiliki orangtua yang hebat. Orangtua yang selalu mendukung apa yang dilakukan anak-anaknya, entah itu akan menjadi keberhasilan atau kegagalan, mereka tetap mendukung hingga akhir. Orangtua yang tak pernah memaksa anak-anaknya melakukan apa yang dia inginkan, semua terserah anak-anaknya, mereka mendukung apapun itu. Orangtua yang selalu hadir di sisi anak-anaknya, sekalipun anak-anaknya gagal dalam apa yang hendak ia capai.

Karena aku, memiliki orangtua yang hebat. Orangtua yang selalu merangkul dan membuat hatiku damai tiap kegalauan tentang apapun itu selalu mengisi hati, meskipun seringkali aku selalu meragukan rangkulan mereka. Orangtua yang selalu setia mengantarku ke gerbang pendidikan selama kurun waktu enam tahun, terutama untuk bapak, aku tak tahu bagaimana membalas itu semua, aku sangat bersyukur memiliki kalian di hidupku. Orangtua yang tak pernah marah dengan hebat jika aku melakukan kesalahan, aku salah tetapi mereka yang memperbaiki kesalahanku.

Aku, yang kini mulai berpikir dewasa, yang kini mengerti bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, sangat bersyukur memiliki orangtua seperti bapak dan mamak. Yang terkadang nasihatnya selalu kusepelekan, yang kata-katanya tak kudengarkan, yang airmatanya selalu kuabaikan, yang doanya untuk anak-anaknya selalu dikabulkan, aku sungguh tak bisa berkata-kata.

Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu jika bicara selalu diabaikan, karena aku sudah pernah merasakannya. Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika menasihatiku, karena aku sudah pernah merasakannya. Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika menangis karena tingkah laku yang tak sesuai dengan yang kau mau, aku sangat mengerti.

Mungkin tulisan ini, yang dipenuhi kata-kata manis nan menyentuh, tak bisa membalas semua pengorbanan yang kalian lakukan. Tapi, setidaknya tulisan ini, bisa menyampaikan bahwa aku mencintai kalian dengan sepenuh hati dan cintaku ini tak akan pernah mati.


24022018,


Anak gadismu, Cha.

Hari ini, hari kedua di 2018.
Bertemu denganmu, memandangmu lekat, hingga menyimak suaramu yang bagiku kadang terdengar seperti saat Ed Sherran menyenandungkan lagunya yang bertajuk Perfect, merdu dan syahdu. 
Lantas, bagaimana dengan perasaanku padanya?
Entahlah. Gamang. Perasaanku padanya layaknya senja di ujung barat, perlahan menghilang dilahap langit malam.
Seperti masih ingin memiliki, namun, tak sanggup untuk berjuang (lagi).
Seperti masih ingin menyayangi, namun, ada ruang yang membatasi, semacam pertahanan diri untuk tidak ingin bertatap muka lagi dengannya.
Seperti masih ingin merinduinya, namun, pikiranku seakan menyuruhnya untuk pergi menjauh.

Hari ini, hari kedua di 2018.
Atmosfer di sekitarku mendadak berubah dingin, seperti sikap yang selama ini kau tunjukkan kepadaku, dingin bak es.
Seolah ikut campur dengan atmosfer di sekitarku, langit pun mendadak berubah gelap, bulir-bulir air turun membasahi tanah.
Bayangan tentangmu, tentang perasaan yang selama ini dipendam, sepenuhnya larut dalam kubangan air hujan yang turun dengan derasnya.
Tak ada lagi kamu, tak ada lagi perasaan, semuanya hilang tak berbekas.

Hari ini, hari kedua di 2018.
Selamat kuucapkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
Tak ada lagi yang kamu perlu khawatirkan.
Tak ada lagi yang harus kamu tunggu.
Kamu bebas, kamu berhak mendapatkan yang lebih layak untukmu.
Kamu hebat, kamu sudah tak lagi membayanginya.

Hari ini, hari kedua di 2018.
Hari-hari menyenangkanmu sudah dimulai, tidak ada lagi hari untuknya melainkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.


02012018,


//rzk//
Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
memperjuangkannya tanpa henti,
memikirkannya setiap waktu,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang dikejar bukan mengejar.

Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
menantikannya tanpa perlu perintah,
membiarkan hatiku terluka karenanya,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang diperjuangkan bukan memperjuangkan.

Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
merindukannya sepihak,
menatap matanya diam-diam,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang dicari bukan mencari.

Biarlah semuanya berjalan sebagaimana alurnya.
Perihal mengejar, memperjuangkan dan mencari,
itu sudah bukan urusanku sebagai perempuan.

Karena sekarang,
Aku mengerti, perempuan itu selayaknya memang dikejar, diperjuangkan dan dicari,
bukan sebaliknya.

16022018,


//cha//



Source: Pinterest

Di sepanjang perjalanan hidup yang telah kulalui, aku percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Aku selalu meyakini hal itu, menjadikannya sebagai pondasi agar aku bisa kuat ketika kegagalan menghampiriku. Tak terhitung sudah berapa kali jatuh, gagal hingga terpuruk.
Kecewa? Sudah pasti.
Marah? Tak bisa diungkapkan lagi.
Sedih? Lebih dari itu.

Aku ingat sekali, kala itu pada saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN), aku yang memantapkan hati memilih jurusan kuliah yang saingannya luar biasa di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Yogyakarta hingga rela terbang menuju Yogya beberapa hari sebelum ujian dilaksanakan. Aku memiliki alasan tersendiri mengapa aku memilih ujian di Yogya sedangkan di daerah sendiri pun ujian bisa dilaksakan, aku memilih seperti itu karena ingin mengikuti tes mandiri di perguruan tinggi yang sama dengan yang kupilih pada SBMPTN, meskipun pada akhirnya pada kedua tes aku dinyatakan 'gagal'. Ketika hari pengumuman SBMPTN, aku menangis sejadi-jadinya hingga rasanya seperti tak sanggup menjalani semua hal. Berhari-berhari larut dalam kesedihan, aku masih optimis menunggu pengumuman ujian mandiri yang telah aku ikuti, aku mencoba bangkit, mencoba untuk mengikhlaskan semuanya, mencoba untuk tersenyum meskipun kegagalan itu masih membekas di hatiku. Hari itu pun tiba, pengumuman ujian mandiri, pelan-pelan ku ketikkan nomor ujianku dan... ya aku gagal lagi. Rasa kecewanya memanglah tidak sebanding saat pengumuman SBMPTN sebelumnya, tapi kata 'gagal' itu terus terngiang dalam pikiranku. Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana, seperti usaha yang kulakukan selama ini tertahan oleh sesuatu, tidak berhasil hingga akhir.

Saat itu aku menyadari bahwa Allah sedang mengujiku, Allah sedang sayang-sayangnya padaku, Allah sangat merindukanku dalam sujud di sepertiga malam. Aku mulai melakukan perubahan pada diriku, perbanyak ibadah sunnah hingga perkuat doa. Berminggu-minggu larut dalam kesedihan, aku menjadi sedikit lebih kuat dari sebelumnya dan siap menerjang badai besar yang mungkin akan terjadi dan kuhadapi lagi dalam hidupku. Dan benar saja, aku mengikuti ujian mandiri lagi di daerahku, mengambil jurusan yang sama saat SBMPTN, semuanya terasa begitu mudah hingga saat pengumuman tiba, aku dinyatakan lulus, aku tidak 'gagal' lagi. Meskipun bukan di perguruan tinggi yang aku impikan, aku merasa lebih baik dan aku terus meyakini diriku bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, semuanya baik tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

Aku pernah berpikir bahwa tidak semua yang kita sukai itu baik menurut kita dan tidak semua yang kita tidak sukai itu buruk bagi kita. Dan ya, Allah membuktikan itu semua padaku. Ada tiga jawaban yang Allah siapkan ketika mengabulkan doa kita;
Aku kabulkan,
Tunggu, tingkatkan usaha dan doamu,
Tidak, Aku menggantinya dengan yang lebih baik.
Meskipun seringkali jawaban dari doa yang dipanjatkan tidak selalu berujung mendapat jawaban 'Aku kabulkan', cobalah untuk percaya dan meyakini diri sendiri bahwa tidak ad usaha yang sia-sia, semua itu adalah jawaban terbaik dari semua usaha yang kamu lakukan dan doa yang kamu panjatkan :)

04022018,

Cha
Newer Posts Older Posts Home

Tentang Aku

Mau mengenal aku lebih dalam? Buka sosial mediaku, tapi jangan kecewa karna yang aku tampilkan terlihat sempurna tidak ada cela. Barangkali mau sharing atau discuss, boleh dm salah satu sosial mediaku.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Hai, kamu pembaca yang ke

Semua Tulisanku

  • ►  2025 (7)
    • ►  December (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ▼  2018 (14)
    • ►  October (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ▼  February (4)
      • Surat Cinta Untukmu, Orang Terbaik dalam Hidup
      • Hari Kedua di 2018
      • Setelah Jatuh Berkali-kali
      • Antara Doa dan Usaha
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)

Labels

  • Article
  • Experience
  • Motivation
  • Part of My Feeling
  • Poetry
  • Random
  • RizkaTalk
  • SelfHealingSeries

Paling Sering Diceritakan

  • Care? Are you sure? Care? Are you sure?
  • 2019 dengan Segala Keriuhannya 2019 dengan Segala Keriuhannya

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates