Pembahasan kali ini lumayan berat ya,
readers. Topik yang akan aku bahas ini sudah lama terpikirkan, berdasarkan pengamatan dan fakta-fakta yang aku dapatkan dan baru bisa aku curahkan sekarang dalam tulisan ini. Tentu saja, topik tentang ‘menikah’ sangat viral dikalangan anak zaman now. Trend ‘menikah muda’ juga masih menjadi berita terhangat di telinga anak muda. Young Married? Are you sure with that?
Terkadang, aku benar-benar bosan mendengar anak-anak muda seusiaku berbicara tentang menikah, menikah muda, i mean. Bukan karena aku membenci atau tidak menyukai syahdunya sebuah pernikahan, bukan. Aku menyukainya, menyaksikan senyum membuncah dua insan yang dipertemukan dengan berbagai cara tak terduga. Aku hanya muak dengan anak-anak muda yang selalu berbicara bahwa menikah adalah solusi dari pahitnya menjalani kehidupan, dari lelahnya menjalani pendidikan yang bahkan belum selesai ia jalani dan dari hambarnya kesendirian tanpa ada seseorang yang menjadi sandaran. Menikah itu bukan solusi dari segalanya, dear. Menikah itu bukan hal yang mudah untuk dijalani apalagi orang yang ngebet banget pengen nikah udah kayak dunia mau kiamat besok sedangkan pasangannya nggak ada, gimana ceritanye tuh? Ehehe. Menikah itu.. Menikah itu... tak bisa kamu definisikan bahwa itu bisa menjadi solusi atas hidupmu yang penuh dengan ujian, permasalahan atau apapun itu.
Dear,
Ketika kamu menikah, kamu tidak lagi berbicara tentang dirimu sendiri tapi tentang kamu dan juga dia, ada ‘kami’ yang terselip diantara keduanya.
Ketika kamu menikah, urusanmu tidak lagi menjadi milikmu dan urusan dia; yang menjadi pasanganmu, menjadi milikmu juga, itu berarti kamu memegang kendali atas dua urusan yang boleh jadi tidak sesuai dengan kesanggupanmu dalam menyelesaikan.
Ketika kamu menikah, kamu tidak hanya dihadapi permasalahan yang disebabkan oleh dirimu sendiri, tetapi kamu akan mengahadapi permasalahan yang lebih besar dari itu, masalah antara dua keluarga yang berbeda pandangan dan prinsip hidup.
Ketika kamu menikah, kamu tidak lagi hidup seorang diri, tetapi bersama orang lain. Sudah siapkah kamu akan hal itu? Sudah siapkah kamu menyatukan dua pikiran, dua pandangan dan dua prinsip yang berbeda?
Dear,
Sudah siapkah kamu untuk membagi hidup yang benar-benar hanya privasimu kepada orang lain?
Sudah siapkah kamu melangkah ke arah yang lebih serius sementara dirimu masih terbelenggu dalam dunia kekanak-kanakanmu?
Sudah siapkah kamu untuk mendengar selentingan omongan orang lain tentang hidupmu yang mengalami perubahan?
Sudah siapkah kamu untuk mengurus orang lain yang terkadang kamu juga banyak mengeluhnya ketika mengurusi keperluanmu sendiri?
Sudah siapkah kamu untuk membina keluarga yang pastinya akan ada banyak kejutan menghampirimu?
Sudah siapkah kamu menerima segala kekurangan, sifat yang kamu tidak temui pada dirinya sebelumnya?
Sudah siapkah?
Dear,
Usiamu masih sangat muda. Mentalmu masih dalam kondisi yang labil, masih dilingkupi kebingungan untuk menentukan sebuah pilihan yang akan membawa masa depanmu ke arah mana. Perasaanmu yang kerap goyah juga menjadi hal yang harus dipertimbangkan ketika kamu hendak memulai kehidupan baru dan bertemu orang baru.
Usiamu masih sangat muda. Perbanyak kegiatan produktif bersama teman-teman seusiamu, berbagi pengalaman hidup, itu akan mendewasakan pikiranmu.
Usiamu masih sangat muda. Kedua orang tuamu masih membutuhkanmu, kamu juga masih membutuhkan keduanya. Kamu membutuhkan dorongan semangat, motivasi dari mereka dan kedua orang tuamupun membutuhkanmu sebagai seorang yang berhasil membuat bangga.
Dear, aku berikan sebuah pencerahan.
Menikah itu tidak mudah, apalagi menikah muda. Bukan bermaksud menyinggung, tetapi hanya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita-kita yang masih berusia amat muda, yang masih hidup di atas pengorbanan orang tua yang belum bahkan tidak akan pernah bisa kita membalas seluruh pengorbanan keduanya. Usiamu berapa? 18 tahun? 19 tahun? 20 tahun? Lalu, kamu ingin menikah muda? Mimpi-mimpimu bagaimana? Perjalanan keliling dunia yang kamu rencanakan dengan usahamu sendiri bagaimana? Segala sesuatu yang kamu impikan, rencanakan, agendakan akan berubah ketika kamu menikah. Mimpi kamu yang itu, akan berubah haluan menjadi memprioritaskan hidupmu yang telah terisi oleh orang lain. Rencanamu yang ini, tidak akan terlaksana sesuai rencana. Sungguh, aku hanya memberikan sebuah pencerahan dan tidak bermaksud membuatmu menyerah atas niat baik (re: menikah) yang akan kamu lakukan. Aku hanya ingin mengubah pola pikirmu, tidak memaksakan kehendak.
Tolong digaris bawahi, aku tidak membenci sebuah pernikahan. Aku hanya ingin mengubah mindset kita-kita yang masih tergolong sangat muda ini untuk berpikir terbuka bahwa menikah muda itu bukan satu-satunya solusi untuk menyudahi segala macam hal yang kamu anggap tak bisa terselesaikan. Justru, ketika kamu menikah, akan ada berbagai jenis masalah yang datang menghampiri. Bukan satu atau dua masalah, tetapi lebih dari itu. Kamu sanggup nggak menerimanya? Kamu siap nggak menyelesaikan semuanya? Jika jawabanmu adalah tidak, maka fokuslah untuk menata hidupmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan ada skenario indah yang Tuhan rancang untukmu, doa dan ikhtiar adalah obatnya. Tetapi, jika jawabanmu adalah iya, maka silakan lakukan niat baikmu itu. Anggaplah, jodohmu datang dengan paket express dari Sang Maha Pencipta.
Well, roda kehidupan akan terus berputar bukan?
Jangan hanya karena kamu lelah menjalani pendidikan, kamu ingin menyerah dengan menikah. Tolong, jangan. Ayah dan ibumu lebih dari jungkir balik mencari biaya untukmu agar kamu bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang yang beliau-beliau sangat harapkan kamu mampu menyelesaikannya. Ayah dan ibumu menaruh harapan yang amat besar padamu, dear.
Jangan hanya karena kamu tidak sanggup menyelesaikan masalahmu sendirian, kamu ingin menyerah dengan memilih untuk menikah. Tolong, jangan. Kamu punya sahabat, teman, keluarga yang menjadi pelipur laramu. Tidak semua masalah tidak dapat diselesaikan. Kalau kamu merasa tidak sanggup, ceritakan pada sahabatmu, temanmu dan keluargamu, meskipun mereka hanya sekedar membantu dalam konteks mendengarkan semua masalahmu, setidaknya bebanmu sedikit berkurang. Lebih dari mendengarkan masalah-masalahmu merupakan sebuah bonus yang kamu dapatkan dari kuatmu bertahan untuk tidak menyerah pada hidupmu.
Jadi, bagaimana? Pendirianmu masih keukeuh? Tak apa, aku hanya menyampaikan apa yang selama ini aku amati dan simpan.
The last, kita punya jalan hidup masing-masing berbeda. Terkadang ada yang lebih dulu bertemu jodoh sebelum bisa merealisasikan mimpi-mimpinya, ada yang terlambat sedikit dan bisa menyelesaikan bucket list mimpi dan harapannya, ada pula yang bertemu jodohnya di surga. Takdir setiap orang hanya Tuhan yang tahu. Tak perlu kita menerka-nerka, menebak seperti apa takdir kita esok hari. Kita hidup untuk hari ini, hari esok kita tidak tahu akan seperti apa.
19042019
With much love,
Cha