"Karena kita nggak satu frekuensi, lebih baik menyudahi daripada menjadikan kita berdua saling melukai."
Pernah dengar nggak hal yang sama maknanya seperti itu? Mungkin, sering banget kali ya. Kalau aku sih, lebih sering liatnya di twitter, melalui tweet para sesepuh. hehe. Yang main twitter udah dari lama pasti taulah.
Satu frekuensi, artinya satu tujuan, selaras antara hati dan pikiran. Dalam hal ini, satu frekuensi nggak hanya diperlukan dalam hubungan saja, tetapi juga dalam pertemanan. Nggak, aku nggak mau bahas yang masalah pertemanan, karena suka merembet kemana-mana, nantinya. Aku mau fokus bahas 'satu frekuensi dalam hubungan' aja. Gimana, nih, para pujangga cinta?
Sejujurnya, aku, sama sekali belum pernah terjebak dalam sebuah hubungan yang di dalamnya ada dua orang yang hati dan pikirannya selaras, ada dua orang yang kalau sudah bertemu akan sama-sama nyambung membicarakan sesuatu, satu frekuensi,
i mean. Nggak semua orang bisa bertemu secara gamblang dengan seseorang yang satu frekuensi dengan dirinya sendiri. Kadang, kita yang sifatnya egois dipertemukan dengan orang yang egois pula, sifatnya memang sama, tetapi jalan pikiran keduanya pastilah berbeda. Dan sifat yang sama-sama egois itu, nggak sehat, bisa menimbulkan kesalahan yang fatal dikemudian hari.
Satu frekuensi. Sepikiran, sehati dan sejiwa. Kamu perlu memaknai ketiga hal itu, menelaahnya lebih dalam, dan memastikan ketiga hal itu ada pada seseorang yang kamu temui. Memastikan; bahwa orang yang kamu temui benar-benar satu frekuensi dengan dirimu. Bisa jadi, ketika kamu bertemu dengannya, yang awalnya kamu menganggap dia satu frekuensi dengan kamu hanya karena hobi kamu dan dia sama tetapi pada hari-hari selanjutnya prinsip kamu mulai tidak seimbang dengannya. Itu akan terlihat dari cara kamu berpikir dan cara dia berpikir yang tidak sejalan. Kamu memilih melintasi jalan yang lurus sedang dia memilih jalan yang berkelok-kelok. Kamu memilih untuk menjadi tulus sedang dia memilih untuk menjadi pamrih. Dan, pada akhirnya, kamu dan dia akan berujung jalan masing-masing alias ber-pi-sah. Karena apa? Karena kamu dan dia nggak satu frekuensi,
dear.
Satu frekuensi. Seprinsip, sejalan, dan sedekat nadi. Ketika nanti kamu bertemu dengan dia yang satu frekuensi dengan kamu, aku ingin beritahu bahwa jangan pernah sia-siakan dia yang satu frekuensi denganmu, dengan hati dan pikiranmu. Karena, menemukan yang satu frekuensi butuh banyak perjuangan dan banyak yang terkorbankan. Kalau dia yang satu frekuensi denganmu kamu sia-siakan, butuh berapa lama kamu akan menemukannya kembali? Sehari? Seminggu? Sebulan? Nggak semudah itu,
dear.
It takes so many times. Kesempatan itu nggak datang dua kali, sama seperti dia yang satu frekuensi denganmu, dia nggak datang dua kali tapi sekali dengan kenangan yang akan terus membekas.
11102018,
Cha
Seiring langkah yang tidak lagi berjalan beriringan. Seiring perjalanan yang tidak lagi tentang aku dan kamu, tentang kita, tapi tentang diriku.. yang memilih pergi untuk hidupku yang lebih baik. Sebanyak apapun sayang yang kamu coba perlihatkan, tidak akan mampu meluluhkan hati yang sudah hancur berserakan. Sesering apapun kamu coba menghubungiku, mengirimiku pesan singkat, tidak akan bisa merekatkan luka yang sudah sangat menganga.
Seiring perasaan yang tidak lagi sama seperti saat pertama kita bertemu, aku semakin yakin, bahwa inilah yang paling baik di antara yang baik. Sebuah kepergian, tak sepatutnya ditangisi. Sebuah perpisahan, tak sepatutnya diratapi. Sebuah kehilangan, tak sepatutnya dibayangi kembali. Sejatinya, kepergian, perpisahan, dan kehilangan adalah suatu hal yang akan terus ada dalam kisah hidup yang Tuhan telah rancang.
Seiring berjalannya waktu, aku sadar, bahwa hidupku tak melulu tentang kamu, tentang perasaanmu, tentang mengagumimu. Bahwa hidup seyogianya tentang mengikhlaskan yang telah berlalu, tentang membiarkan semuanya melebur layaknya pasir dan hilang ditiup angin kehidupan, tentang bersabar untuk waktu yang lama demi sebuah akhir yang indah suatu hari nanti.
19082018,
Cha
Ketika banyak sekali orang yang ingin memulai sebuah hubungan dengan orang yang dikagumi, aku justru tidak ingin, tidak mau memulainya malah. Alasannya
klise; aku tidak ingin hatiku terikat dengan hubungan yang sedari awal sudah kupastikan tidak akan berujung manis seperti kisah orang kebanyakan.
Aku itu penakut, untuk kalian tahu. Takut memulai, takut menjalankan, takut disakiti, takut menyakiti hingga takut ditinggalkan. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu, mungkin masih ada rasa trauma di masa lalu atau mungkin karena ada suatu hal yang aku tidak tahu penyebabnya. Aku tidak tahu pasti, yang jelas aku orangnya penakut. Aku pernah mencoba dekat dengan seseorang, tapi tidak sepenuhnya aku bisa membiarkan diriku terjebak dalam kedekatan yang kubuat. Pada awalnya, aku bisa mengatasi rasa takutku, namun, tidak sampai akhir. Semuanya tidak sesuai rencana. Aku memilih untuk pergi dan mengalah pada hatiku yang tidak bisa kupaksakan untuk memulai semuanya. Dan semuanya berakhir.
Tidak semua orang bisa memulainya dengan perasaan senang, aku justru sebaliknya, memulai dengan perasaan takut. Ketika sudah memulai beberapa langkah, justru hatiku yang meminta untuk pergi, hatiku yang memaksa untuk menjauh, hatiku yang membuat batas. Seperti diberikan
clue oleh Tuhan; tinggalkan karena dia bukan orang yang bisa mengimbangi semua ketakutanmu. Dari semua itu, dari semua rasa ketakutanku, aku memilih untuk tidak memulai terlalu jauh dan memilih untuk sendiri hingga waktu yang lama.
Aku memahami, bahwa diriku yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Dulu, aku begitu mudah dekat dengan orang lain, selalu terbuka dengan orang lain. Sekarang, aku menjadi orang yang tidak mudah untuk didekati, cenderung tertutup dan selalu membatasi kedekatan dengan orang lain. Sekarang, aku merasa memiliki pertahanan diri yang lebih kuat dari sebelumnya, lebih mengerti tentang bagaimana seharusnya tingkah laku seorang perempuan ketika sedang bersama dengan lawan jenisnya. Di sini, aku tidak menyindir atau menghakimi siapapun. Karena aku sadar, bahwa aku juga dalam tanda kutip "pernah" melakukan hal yang seharusnya tidak layak untuk dilakukan. Aku pernah melakukan kesalahan begitupun dengan kalian, maka dari itu kita sama-sama memberikan nasihat yang baik dan contoh yang layak.
Banyak orang yang mengira bahwa aku adalah orang yang banyak tertawa bahkan orang yang terlihat bahagia, tidak, aku tidak seperti itu. Aku itu tidak sekuat dan setangguh yang kalian ketahui. Menutupi kesedihan dan masalah yang kuhadapi adalah hal yang harus kulakukan, karena aku tahu bahwa tidak semua orang yang dekat denganku mau kubagi seluruh kesedihan dan masalahku. Karena tidak semua orang yang dekat denganku bisa membantu meringankan, dan terkadang justru menambah. Maka dari itu, aku memilih untuk membatasi diri dan tidak mau terlalu jauh dekat dengan orang lain. Mungkin kalian pernah atau saat ini merasakan hal yang sama sepertiku? Jangan takut, jangan merasa terbebani. Lama-kelamaan pasti semua hal itu akan berlalu, entah dengan cara yang cepat ataupun dengan cara yang lambat.
Yang terpenting kita selalu ingat bahwa sendiri itu baik. Kamu punya banyak waktu untuk dirimu, banyak waktu untuk kamu habiskan dengan sahabat-sahabatmu, banyak waktu untuk kamu sisihkan bersama keluargamu. Tidak selamanya, dekat dan bersama seseorang itu merupakan sebuah pembenaran di antara kesendirianmu. Tidak. Ada kalanya itu merupakan sebuah kesalahan yang tidak sengaja kamu perbuat. Jangan menyalahkan dirimu atas kesendirianmu saat ini, kamu justru harus banyak-banyak bersyukur, karena saat ini banyak orang yang menginginkan waktu sendiri saat sedang bersama orang lain sedang mereka tidak memiliki waktu dengan dirinya sendiri karena sibuk mengurusi orang lain, mengurusi hidup orang lain, mengurusi perasaan orang lain.
17082018,
Cha
Pada senja sore itu,
kutitipkan serpihan-serpihan kenangan pahit untuk kelak dijadikan cerita indah,
di kemudian hari.
Pada senja sore itu,
kusempatkan hati ini bersimpuh dalam diam, seraya mendoakan agar kita, aku dan kamu sama-sama diberikan pengganti yang lebih baik,
di kemudian hari.
Pada senja sore itu,
kuterdiam menatap lekat sang surya yang mulai tenggelam di ujung barat, membuat sebuah harapan tentang sebuah kebahagiaan yang kuimpikan untuk ku wujudkan,
di kemudian hari.
Pada senja sore itu,
kuteriakkan semua kegelisahanku yang berlalu pergi, untuk kuabadikan terakhir kali, sebelum rasa-rasa menyenangkan datang menghampiriku,
di kemudian hari.
Pada senja sore itu,
yang tersisa hanyalah aku, seorang perempuan, yang berjanji untuk menjadi perempuan yang kuat, dengan senyuman yang terukir manis di bibirnya, berjuang untuk hidupnya yang lebih baik,
di kemudian hari.
Pada senja sore itu..
15072018,
Cha
Pedulinya seseorang bukan dilihat dari seberapa sering dia muncul pada instastory sosial mediamu, tetapi seberapa sering dia muncul di kehidupan nyatamu dan memberikan perhatian lebih padamu.
Itu definisi tentang seseorang yang peduli, menurutku. Bagi kalian mungkin berbeda-beda tergantung bagaimana cara pandang kalian terhadap 'peduli'. Beberapa hari ini, tidak tahu sejak kapan ya, orang-orang terdekat mengusik pikiranku tentang peduli, kepedulian, pedulinya seseorang, ah apapun itu. Rasanya sudah tidak mengerti lagi ya, sudah kutekankan berkali-kali definisi peduli itu apa, tapi masih saja mereka mengusikku, mengganggu sih tidak ya, tapi sangat menyebalkan, terkadang.
Harus kujelaskan darimana? Dari definisi peduli dulu deh, peduli itu semacam bentuk perhatian yang diberikan oleh orang lain terhadap diri kita, entah sedang dalam bahagia atau dalam keadaan sedih sekalipun, mereka selalu ada, memberikan dorongan mental berupa kata-kata ataupun tindakan. Sekiranya begitu.
Peduli ya? Bagaimana rasanya dipedulikan oleh orang lain? Bagaimana peduli yang seharusnya?
Buatku, peduli itu bukan sekadar kata-kata yang membangun kekuatanku yang melemah, tapi sebuah tindakan nyata yang diberikan oleh orang lain terhadapku, terhadap kita, terhadap siapapun itu. Begini ya, kalau kamu senang bermain sosial media, kamu pasti mengerti maksudku, kamu memiliki banyak kenalan pastinya. Bahkan tidak sedikit dari kenalanmu itu, sudah menjadi orang yang masuk dalam lingkaran orang terdekat dalam hidupmu. Setiap beberapa hari, atau bahkan setiap hari, kamu selalu menghubunginya, menanyakan apa yang sedang dilakukannya hingga saling bertukar informasi pribadi sekalipun. Pastilah itu akan terjadi. Kamu dan dia kan sudah berteman, bahkan sudah kamu anggap dia orang terdekatmu.
Tapi, apa kamu tahu? Sebenarnya, dia hanya peduli pada dirimu di sosial media saja, tidak pada dirimu di dunia nyata. Pernah tidak, terlintas di pikiranmu atau kamu bertanya-tanya dalam hati, "sebenarnya dia ini peduli nggak sih sama saya? Tiap hari chat, ngasi kabar, tapi di dunia nyata malah biasa aja?", pernah tidak? Pasti pernah, meskipun kadang pertanyaan-pertanyaan itu sering kamu abaikan. Orang seperti itu banyak, bukan sedikit. Mereka, memang hadir di hidupmu, tapi tidak benar-benar ada di duniamu yang nyata, mereka hadir di dunia mayamu. Sekadar untuk singgah dan membuatmu lebih terhibur dengan perhatian dan peduli mereka.
Sungguh, mereka tidak benar-benar peduli dengan apa yang terjadi pada hidupmu yang sebenarnya. Justru, orang-orang yang memang dekat denganmu di dunia yang nyata, kamu abaikan peduli mereka, peduli yang benar-benar peduli. Ketika kamu dalam keadaan yang sangat menyedihkan, orang yang kamu anggap dekat di dunia maya, hanya bisa memberikan perhatian dan pedulinya sebatas chat, tidak dengan orang-orang di hidupmu yang nyata, mereka selalu siap merengkuhmu kapanpun kamu butuh mereka, sekalipun kamu abaikan semua kepedulian mereka.
Kamu hidup di dunia nyata, bukan dunia maya.
Kamu butuh yang benar-benar selalu ada, bukan yang selalu menghilang ketika kamu selalu merinduinya.
Kamu hidup di dunia nyata, bukan dunia maya.
Kamu tak sekadar hidup untuk mereka yang tak benar-benar peduli padamu, tapi kamu hidup untuk mereka yang selalu kamu abaikan pedulinya.
30052018,
Cha
"Love is like a wind. You can't see it, but you can feel it.."
Mungkin perumpaan itu sudah sangat sering kita dengar. Perumpamaan tentang hal yang membuat orang kadang menjadi seperti orang bodoh, hal yang disebut cinta.
Menurut kalian, cinta itu apa sih? sejenis makanan ataukah sejenis minuman? Atau bisa jadi sejenis permainan? Ah, ketiganya itu tidak mungkin kan? Apa iya cinta yang kamu damba-damba itu sejenis makanan dan minuman yang setiap hari menjadi asupan energi dalam tubuhmu? Apa iya cinta yang kamu agung-agungkan itu sejenis permainan yang membuat perasaanmu gembira tiap kali kamu memainkannya? Apa iya? Lalu, apa sebenarnya cinta?
Kemarin, ada seorang perempuan yang bertanya apa itu cinta padaku. Dengan penuh kebingungan, aku mencoba menguraikan jawabanku untuknya, seorang perempuan penanya.
Apa itu cinta?
Cinta ya, menurutku cinta itu sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi dirasakan, cinta itu dimiliki setiap insan. Cinta itu suatu hal yang rumit, menurutku. Kenapa? Karena dia tidak bisa ditemukan secara langsung, butuh waktu untuk ditemukan, entah itu disebabkan oleh seseorang ataupun hal lainnya. Cinta itu tidak bisa ditemukan tanpa dicari, tidak bisa ditemukan tanpa didahului suatu hal yang membuatnya ditemukan, seperti ketika kamu menyukai seseorang. Benar kan?
Cinta itu perasaan yang tidak bisa ditemukan tanpa didahului oleh sebab. Permisalannya, ketika kamu menyukai seseorang, awalnya kamu biasa saja, menyukainya secara sederhana, berbalas pesan yang dimulai dari kadang hingga menjadi sering, dari sana timbul perasaan nyaman, dari perasaan nyaman ini mulai tertanam rasa sayang yang berakhir pada kamu mencintainya teramat dalam.
Sudah kujawab kan, cinta itu perasaan yang tidak dapat ditemukan jika tidak ada hal yang menyebabkannya timbul ke permukaan.
Lalu, si perempuan ini bertanya lagi padaku tentang rasa. Dia bertanya rasa itu apa? Aku terdiam sejenak memikirkan jawabannya, kucoba untuk menguraikannya.
Apa itu rasa?
Rasa. Itu hal yang paling lumrah yang ada pada diri seseorang. Aku tidak bisa mendefinisikan rasa itu seperti apa, karena rasa yang ku tahu itu tidak ada wujudnya, hanya sebatas sesuatu yang kiranya kamu dapatkan dari melakukan suatu hal. Sama seperti cinta. Hanya bedanya, kalau cinta tidak bisa langsung dirasakan kalau tidak dicari. Tetapi kalau rasa, dia muncul kali pertama saat kita menyukai sesuatu, semisal kamu melihat barang yang lucu, kemudian kamu suka, itu rasa namanya. Dia-rasa-hanya sebatas ketika kamu melihat sesuatu yang membuatmu merasa senang, itu yang dinamakan rasa menurutku.
Tak sampai disitu si perempuan ini bertanya. Dia bertanya lagi, kali ini pertanyaan sederhana namun, rumit untuk di jawab. Dia bertanya, rasa cinta itu apa?
Rasa cinta itu apa?
Rasa itu yang seperti manis, asam, asin, pahit kan? Nah, aku bingung. Benarkah rasa cinta itu pahit? Kedengarannya begitu aneh dan tak masuk akal.
Apa ya, it's complicated. Kalau rasa cinta itu bahagia? Itu bukan disebut rasa ya, itu perasaan yang dialami. Tapi, untuk kesekian kalinya, aku berpikir kalau rasa cinta itu ya bahagia bisa juga sakit. Karena secara tidak sadar, cinta datang dengan rasa bahagia dan rasa sakit secara bersamaan tanpa kita ketahui. Jadi kalo menurutmu, rasa cinta itu apa? Silakan isi di kolom komentar ya 😂
24042018,
Cha
Pernah tidak merasa seperti sangat memiliki seseorang padahal sebenarnya tidak dimiliki?
Pernah tidak merasa merindukan seseorang tapi kenyatannya seseorang itu tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu?
Pernah tidak merasa ingin melarang seseorang yang begitu kamu sukai untuk dekat dengan orang lain dengan kenyataan kamu dan dia hanya sebatas teman?
Jika pernah, berarti kamu sudah jatuh teramat dalam padanya, pada seseorang yang menganggapmu hanya sebatas teman, bahkan menganggapmu bukan siapa-siapa di hidupnya.
Kamu merasa memiliki, tapi kamu tersadar bahwa kamu bukan orang yang selama ini dia kagumi.
Kamu merinduinya, tapi sejenak kamu akan berpikir yang kamu rindukan tidak merindukan kamu dengan kenyataan dia merindukan orang lain, dan pada akhirnya kamu akan sadar bahwa kamu merindukan orang yang merindukan orang lain dan semuanya sia-sia.
Begitupun dengan kamu yang merasa sangat ingin melarang 'dia' untuk dekat dengan orang selain kamu, tapi, hei dear, sadarlah, kamu bukan siapa-siapanya yang bisa melarang dia untuk dekat dengan orang selain kamu.
Ketika kamu memiliki perasaan yang teramat dalam pada seseorang, berusahalah untuk tetap menjadi dirimu. Menjadi seperti yang seharusnya, seperti apa adanya kamu. Bukan berubah menjadi seperti yang kamu atau dia mau.
Dear, sudah seharusnya, ketika kamu jatuh dalam pesona seseorang, kamu tak lantas bersikap tak sesuai aturan. Mengiyakan segala bisikan setan yang menggema di telingamu hingga akhirnya kamu berbuat tak karuan.
Sudah saatnya berubah, dear. Jatuhlah dengan cara yang elegan, sesuai dengan perempuan terpilih kebanyakan.
Hei, dear, jatuh teramat dalam pada seseorang itu tak salah. Yang salah itu cara kamu dalam menempatkan dirimu yang tak tahu kemana seharusnya melangkah. Cukuplah kali ini saja kamu salah, untuk selanjutnya kamu harus lebih terarah.
15042018,
Cha
Berubah menjadi lebih baik bukanlah proses yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, semudah membuat orang lain kesal. Banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama keyakinan dalam diri untuk tidak lagi mengulang kesalahan yang dulu pernah dilakukan.
Setiap orang pasti ingin berubah menjadi lebih baik, dengan cara mereka tentunya. Bagi saya, berubah menjadi lebih baik merupakan point penting yang harus saya garis bawahi dalam hidup. Dengan adanya perubahan yang terjadi dalam diri saya, orang lain juga merasakan perubahan itu dan itu membuat saya merasa lebih baik dan lebih menikmati hidup.
Ada beberapa cara yang menurut saya bisa dilakukan ketika akan merubah diri menjadi lebih baik. Pertama, meyakinkan diri untuk benar-benar berubah, berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi berkaca pada masa lalu dengan mengulang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Meyakinkan diri sendiri itu tidaklah mudah, sama seperti meyakinkan orang lain untuk menyetujui keputusan yang telah kita buat. Butuh waktu yang ekstra, butuh banyak pertimbangan. Kedua, perubahan yang kita lakukan itu pure (murni) karena memang diri kita sendiri yang ingin berubah, bukan karena paksaan atau perintah orang lain. Memang, dorongan orang terdekat diperlukan ketika kita telah berniat untuk berubah menjadi lebih baik, tapi sewajarnya saja, tidak berlebihan. Dan yang ketiga, konsisten terhadap perubahan yang akan terjadi, entah itu menimbulkan banyak pujian atau banyak cacian, kamu harus tetap konsisten, karena yang menjalani itu kamu, bukan orang lain.
21032018,
Cha
Terkadang, melepas seseorang yang sangat berharga dalam hidup sangatlah sulit.
Membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Membuat hati semakin hari semakin bertambah sakit.
Lantas, aku bertanya pada sang pemilik hati, masihkah ia berharap pada orang yang membuat hidupnya menjadi rumit?
Aku sangat berharap banyak padanya untuk tidak percaya pada omongan kosong seorang laki-laki yang tak ayal ujung-ujungnya akan membuat dirinya sakit hati. Aku tahu betul dia ini orangnya seperti apa. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya.
Ketika dia memutuskan untuk memulai hubungan dengan laki-laki yang sedari dulu mendekatinya, dia bercerita padaku, padanya, pada kita semua, sahabat baiknya. Saat itu, dia terlihat bahagia, semakin hari semakin bahagia, wajahnya merona tiap kali aku bertanya tentang sejauh mana kedekatan antara dirinya dan teman dekatnya.
Hari berlalu, tahun demi tahun berganti, empat tahun sudah dirinya menapaki masa-masa "indah" mereka, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain.
Setelah dia merayakan dua tahun hubungannya, dia mulai jarang bercerita padaku dan pada yang lainnya tentang bagaimana kedekatannya yang sudah berlangsung selama beberapa tahun belakangan ini. Tiap kali kulihat wajahnya, rona-rona bahagia saat pertama kali dia memutuskan untuk memulai hubungan dengan laki-laki yang sudah lama mendekatinya perlahan berubah menjadi rona wajah yang terlihat sendu. Wajahnya penuh kekhawatiran, kecemasan, ketakutan hingga kesedihan yang amat mendalam. Aku, yang notabene adalah sahabat baiknya sama sekali tidak berani bertanya sebelum dia sendiri yang memutuskan untuk mencurahkan seluruh isi hatinya padaku.
Aku sadar bahwa setiap orang memiliki batas privasi yang tidak dapat dimasuki selain yang memiliki privasi itu sendiri, oleh sebab itu aku diam seakan tak terjadi apa-apa. Aku juga memiliki batas privasi sama sepertinya, jadi lebih baik tidak memasukinya sebelum orang itu sendiri yang mengizinkan untuk memasuki batas privasinya. Hm. Aku membiarkannya merenungi masalahnya sendiri tanpa ikut campur sedikitpun, tetapi tidak mengabaikannya begitu saja. Perlu kuberitahu sekali lagi, aku tidak akan memasuki batas privasinya sebelum dia mengizinkanku untuk masuk.
Mungkin, dia sudah tidak tahan lagi dengan gejolak di hatinya, rasa sakit yang dia pendam sendiri begitu lama, tangisan yang tak dapat dia luruhkan, pada akhirnya semuanya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya, dia tak peduli lagi dengan yang ada di sekitarnya, hanya isakan tangis yang keluar. Airmatanya bahkan sampai mengering, membekas di pipinya. Setelah cukup lama dia meredakan tangisnya, menenangkan dirinya, dia mulai menceritakan semuanya. Cerita tentangnya, tentang lelakinya, tentang kisah cintanya yang menyedihkan.
Mendengarkan dia bercerita tanpa jeda, membuatku tak ingin mendengarnya bahkan yang ada hanya rasa sesak di dada. Sorot matanya sendu yang penuh dengan perasaan rindu seakan membenarkan bahwa dia memang sedang risau.
Ah, ini kali pertama aku mendengarkan disertai isakan. Pertama kali aku ikut merasakan disertai tangisan.
Dia, sungguh perempuan yang hebat.
Dia mampu mengesampingkan ego demi sebuah hubungan yang ia harap tak ada retakan.
Dia mampu bersikap biasa-biasa saja demi laki-laki yang sikapnya begitu menyesakkan dada.
Dia mampu tersenyum disaat hatinya sedang sangat mendung.
Dan, pada akhirnya dia benar-benar ikhlas melepas yang tak pantas dipertahankan.
Dia merelakan meski hatinya masih ingin mempertahankan.
Dia membiarkannya pergi meski dirinya tak cukup mengerti mengapa ini semua bisa terjadi pada dirinya yang lemah ini.
Cukuplah kali ini dia disakiti berkali-kali tanpa henti.
Cukuplah kali ini dia mengeluarkan airmata untuk hal yang sia-sia.
Cukuplah kali ini dia membiarkan hatinya mati untuk seorang yang tak pantas dicintai.
Yang pergi biarlah pergi, suatu saat pasti Tuhan akan ganti.
Yang hilang biarlah hilang, suatu saat pasti Tuhan ganti dengan yang tidak mudah dikenang.
Yang lalu, biarlah berlalu, suatu saat pasti Tuhan ganti dengan yang tidak akan membuat hati sendu.
04032018,
With love, Cha
Bersama dengan tulisan ini, kukirimkan sejuta cinta untuk seluruh orang tua di seluruh dunia. Untuk dua orang terbaik, yang senantiasa menjaga putra dan putri mereka tak kenal waktu. Untuk dua orang hebat, yang selalu menjadi sandaran di setiap kegagalan yang dialami putra dan putri mereka. Untuk dua orang apa adanya, yang kasih sayangnya tak pernah pudar untuk putra dan putri mereka.
Baik, aku mulai tulisanku dengan menceritakan siapa diriku dan dari orangtua yang seperti apa aku dibesarkan. Aku, yang kini bukan lagi seorang remaja, yang akan beranjak dewasa beberapa bulan lagi, yang masih hidup di bawah naungan kasih sayang orangtua. Aku bukanlah seorang yang pintar, aku biasa-biasa saja. Prestasi yang kuraih sejak aku memulai pendidikan juga tidak ada yang mencolok. Aku, sungguh orang biasa-biasa saja. Aku bukanlah orang yang hebat dikenal banyak orang, bukan juga seorang yang cerdas. Tapi aku merasa bersyukur dan bahagia atas semua itu, kenapa? Karena aku, memiliki orangtua yang hebat.
Source: Pinterest (Duce Alma)
Karena aku, memiliki orangtua yang hebat. Orangtua yang selalu mendukung apa yang dilakukan anak-anaknya, entah itu akan menjadi keberhasilan atau kegagalan, mereka tetap mendukung hingga akhir. Orangtua yang tak pernah memaksa anak-anaknya melakukan apa yang dia inginkan, semua terserah anak-anaknya, mereka mendukung apapun itu. Orangtua yang selalu hadir di sisi anak-anaknya, sekalipun anak-anaknya gagal dalam apa yang hendak ia capai.
Karena aku, memiliki orangtua yang hebat. Orangtua yang selalu merangkul dan membuat hatiku damai tiap kegalauan tentang apapun itu selalu mengisi hati, meskipun seringkali aku selalu meragukan rangkulan mereka. Orangtua yang selalu setia mengantarku ke gerbang pendidikan selama kurun waktu enam tahun, terutama untuk bapak, aku tak tahu bagaimana membalas itu semua, aku sangat bersyukur memiliki kalian di hidupku. Orangtua yang tak pernah marah dengan hebat jika aku melakukan kesalahan, aku salah tetapi mereka yang memperbaiki kesalahanku.
Aku, yang kini mulai berpikir dewasa, yang kini mengerti bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, sangat bersyukur memiliki orangtua seperti bapak dan mamak. Yang terkadang nasihatnya selalu kusepelekan, yang kata-katanya tak kudengarkan, yang airmatanya selalu kuabaikan, yang doanya untuk anak-anaknya selalu dikabulkan, aku sungguh tak bisa berkata-kata.
Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu jika bicara selalu diabaikan, karena aku sudah pernah merasakannya. Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika menasihatiku, karena aku sudah pernah merasakannya. Kini, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika menangis karena tingkah laku yang tak sesuai dengan yang kau mau, aku sangat mengerti.
Mungkin tulisan ini, yang dipenuhi kata-kata manis nan menyentuh, tak bisa membalas semua pengorbanan yang kalian lakukan. Tapi, setidaknya tulisan ini, bisa menyampaikan bahwa aku mencintai kalian dengan sepenuh hati dan cintaku ini tak akan pernah mati.
24022018,
Anak gadismu, Cha.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Bertemu denganmu, memandangmu lekat, hingga menyimak suaramu yang bagiku kadang terdengar seperti saat
Ed Sherran menyenandungkan lagunya yang bertajuk
Perfect, merdu dan syahdu.
Lantas, bagaimana dengan perasaanku padanya?
Entahlah. Gamang. Perasaanku padanya layaknya senja di ujung barat, perlahan menghilang dilahap langit malam.
Seperti masih ingin memiliki, namun, tak sanggup untuk berjuang (lagi).
Seperti masih ingin menyayangi, namun, ada ruang yang membatasi, semacam pertahanan diri untuk tidak ingin bertatap muka lagi dengannya.
Seperti masih ingin merinduinya, namun, pikiranku seakan menyuruhnya untuk pergi menjauh.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Atmosfer di sekitarku mendadak berubah dingin, seperti sikap yang selama ini kau tunjukkan kepadaku, dingin bak es.
Seolah ikut campur dengan atmosfer di sekitarku, langit pun mendadak berubah gelap, bulir-bulir air turun membasahi tanah.
Bayangan tentangmu, tentang perasaan yang selama ini dipendam, sepenuhnya larut dalam kubangan air hujan yang turun dengan derasnya.
Tak ada lagi kamu, tak ada lagi perasaan, semuanya hilang tak berbekas.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Selamat kuucapkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
Tak ada lagi yang kamu perlu khawatirkan.
Tak ada lagi yang harus kamu tunggu.
Kamu bebas, kamu berhak mendapatkan yang lebih layak untukmu.
Kamu hebat, kamu sudah tak lagi membayanginya.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Hari-hari menyenangkanmu sudah dimulai, tidak ada lagi hari untuknya melainkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
02012018,
//rzk//
Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
memperjuangkannya tanpa henti,
memikirkannya setiap waktu,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang dikejar bukan mengejar.
Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
menantikannya tanpa perlu perintah,
membiarkan hatiku terluka karenanya,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang diperjuangkan bukan memperjuangkan.
Setelah 'jatuh' berkali-kali pada orang yang salah,
merindukannya sepihak,
menatap matanya diam-diam,
Aku sadar, bahwa fitrahku sebagai perempuan sejatinya memang dicari bukan mencari.
Biarlah semuanya berjalan sebagaimana alurnya.
Perihal mengejar, memperjuangkan dan mencari,
itu sudah bukan urusanku sebagai perempuan.
Karena sekarang,
Aku mengerti, perempuan itu selayaknya memang dikejar, diperjuangkan dan dicari,
bukan sebaliknya.
16022018,
//cha//
Source: Pinterest
Di sepanjang perjalanan hidup yang telah kulalui, aku percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Aku selalu meyakini hal itu, menjadikannya sebagai pondasi agar aku bisa kuat ketika kegagalan menghampiriku. Tak terhitung sudah berapa kali jatuh, gagal hingga terpuruk.
Kecewa? Sudah pasti.
Marah? Tak bisa diungkapkan lagi.
Sedih? Lebih dari itu.
Aku ingat sekali, kala itu pada saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN), aku yang memantapkan hati memilih jurusan kuliah yang saingannya luar biasa di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Yogyakarta hingga rela terbang menuju Yogya beberapa hari sebelum ujian dilaksanakan. Aku memiliki alasan tersendiri mengapa aku memilih ujian di Yogya sedangkan di daerah sendiri pun ujian bisa dilaksakan, aku memilih seperti itu karena ingin mengikuti tes mandiri di perguruan tinggi yang sama dengan yang kupilih pada SBMPTN, meskipun pada akhirnya pada kedua tes aku dinyatakan '
gagal'. Ketika hari pengumuman SBMPTN, aku menangis sejadi-jadinya hingga rasanya seperti tak sanggup menjalani semua hal. Berhari-berhari larut dalam kesedihan, aku masih optimis menunggu pengumuman ujian mandiri yang telah aku ikuti, aku mencoba bangkit, mencoba untuk mengikhlaskan semuanya, mencoba untuk tersenyum meskipun kegagalan itu masih membekas di hatiku. Hari itu pun tiba, pengumuman ujian mandiri, pelan-pelan ku ketikkan nomor ujianku dan... ya aku gagal lagi. Rasa kecewanya memanglah tidak sebanding saat pengumuman SBMPTN sebelumnya, tapi kata '
gagal' itu terus terngiang dalam pikiranku. Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana, seperti usaha yang kulakukan selama ini tertahan oleh sesuatu, tidak berhasil hingga akhir.
Saat itu aku menyadari bahwa Allah sedang mengujiku, Allah sedang sayang-sayangnya padaku, Allah sangat merindukanku dalam sujud di sepertiga malam. Aku mulai melakukan perubahan pada diriku, perbanyak ibadah sunnah hingga perkuat doa. Berminggu-minggu larut dalam kesedihan, aku menjadi sedikit lebih kuat dari sebelumnya dan siap menerjang badai besar yang mungkin akan terjadi dan kuhadapi lagi dalam hidupku. Dan benar saja, aku mengikuti ujian mandiri lagi di daerahku, mengambil jurusan yang sama saat SBMPTN, semuanya terasa begitu mudah hingga saat pengumuman tiba, aku dinyatakan lulus, aku tidak '
gagal' lagi. Meskipun bukan di perguruan tinggi yang aku impikan, aku merasa lebih baik dan aku terus meyakini diriku bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, semuanya baik tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.
Aku pernah berpikir bahwa tidak semua yang kita sukai itu baik menurut kita dan tidak semua yang kita tidak sukai itu buruk bagi kita. Dan ya, Allah membuktikan itu semua padaku. Ada tiga jawaban yang Allah siapkan ketika mengabulkan doa kita;
Aku kabulkan,
Tunggu, tingkatkan usaha dan doamu,
Tidak, Aku menggantinya dengan yang lebih baik.
Meskipun seringkali jawaban dari doa yang dipanjatkan tidak selalu berujung mendapat jawaban 'Aku kabulkan', cobalah untuk percaya dan meyakini diri sendiri bahwa tidak ad usaha yang sia-sia, semua itu adalah jawaban terbaik dari semua usaha yang kamu lakukan dan doa yang kamu panjatkan :)
04022018,
Cha
Kebanyakan perempuan sering mengaitkan hujan dengan rindu. Perempuan yang hatinya sedang kelabu, misalnya. Hujan yang turun seiring waktu, yang buliran airnya begitu menyakiti kulit, kadang membuat perempuan yang bahkan suasana hatinya sedang baik-baik saja bisa berubah kala hujan turun. Bagaimana bisa?
Dan, sebagai perempuan, aku pun pernah bahkan sering merasakannya. Tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi yang kurasakan ketika hujan turun, hatiku yang semula baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi tidak baik-baik saja bahkan lebih buruk jika hujannya bertambah semakin deras. Tak masuk akal memang, tapi begitu kenyataannya. Aku pernah menemukan foto pada laman sosial mediaku, dalam foto itu tertulis, hujan dapat meresonasi kenangan seseorang di masa lalu. Itu bukan opini, melainkan fakta. Dan aku mengakui itu memang benar adanya.
Hujan dan rindu, dua hal yang sangat amat berbeda. Jelas saja berbeda, hujan itu adalah Rahmat dari Tuhan sedangkan rindu adalah perasaan yang lumrah dimiliki oleh setiap insan. Hubungannya apa? Kebanyakan orang bilang kalau hujan itu erat kaitannya dengan rindu. Bagaimana bisa? Baik, coba baca ulang alinea kedua. Hujan dapat meresonasi kenangan seseorang di masa lalu. Hujan bisa membuat orang kembali mengingat masa lalunya, entah itu masa lalu yang baik atau buruk. Ketika hujan turun, kenangan-kenangan di masa lalu tiba-tiba diputar ulang layaknya sebuah film. Mengingat - mengenang - merasakan - membuat rindu, mungkin itu yang dilakukan hujan ketika meresonasi kenangan masa lalu dalam pikiran kita. Hingga kebanyakan orang sering mengaitkan hujan dengan rindu.
Well, aku tidak tahu pasti kegiatan apa yang dilakukan hujan ketika meresonasi kenangan masa lalu dalam pikiran kita, aku pun tidak sepenuhnya percaya meskipun itu merupakan sebuah fakta. Tapi, aku selalu yakin bahwa hujan itu pembawa rindu terberat yang aku tahu, karena semua hal yang berkaitan tentang mengikhlaskan berawal ketika hujan turun :')
21012018,
Cha