Sayang, sini kuberitahu,
memperjuangkan orang yang tidak peka terhadap perasaanmu itu sangat melelahkan.
Kamu mencari tahu segala hal tentangnya,
Kamu berubah menjadi apa yang dia inginkan,
Kamu melakukan hal yang sebenarnya kamu tidak suka,
Kamu bertindak seolah-olah kamu paham dan tahu apa yang dia rasakan
Tapi, kenyataannya?
Dia sama sekali tidak melihat perjuanganmu
Dia sama sekali tidak ingin tahu apapun tentangmu
Dia sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya kamu lakukan
Dia sama sekali tidak merasakan apa yang kamu rasakan
Kamu memperjuangkannya, tetapi lihat dia, dia tidak melakukan apa-apa untukmu.
Kamu menangis dalam sepi karena semua yang kamu lakukan untuknya justru membuatmu menjadi penyendiri. Tetapi, lihat dia, dia sedang tertawa bahagia, dan itu bukan kamu yang ada di dekatnya.
Sayang, kuberitahu sekali lagi,
Memperjuangkan orang yang tidak peka terhadap perasaanmu itu sangat sangat melelahkan.
Jika kamu sudah berada di titik yang membuatmu ingin menyerah, maka cukup sampai disana kamu memperjuangkannya.
Peka atau tidaknya dia terhadap perasaanmu, Tuhan sudah mengaturnya.
Lepaskan dan berhentilah berjuang.
Karena kamu harus bahagia dengan atau tanpa dia.
21122017,
Cha❤
Kamu tau? Apa yang lebih sakit dari patah hati? Menipu perasaanmu sendiri. Menyangkalnya jika kamu tak memiliki rasa terhadapnya. Membuat orang lain percaya seolah-olah kamu tak melakukan yang sebenarnya.
Kalimat-kalimat itu terngiang dalam pikiranku entah sejak kapan. Ah, mungkin sejak pertama kalinya kita saling menyapa, saling mengobrol bahkan saling beradu argumen. Untuk pertama kalinya, aku berpikir aku menaruh rasa pada seseorang setelah sekian lama menyembuhkan patah hati yang begitu dalam.
Berhari-hari menyangkal hal itu, akhirnya aku pun menyerah dan membenarkan bahwa aku telah jatuh pada sosokmu. Sosok yang menurutku, bukan kriteriaku, bukan tipeku. Tapi, siapa yang bisa disalahkan atas semua ini? Ah, aku tidak ingin berpikir rumit, biarkan ini mengalir sebagaimana alurnya.
Jatuh cinta itu rumit, rumit sekali, menurutku. Menyukai hobi seseorang, yang bahkan bukan merupakan hal yang aku suka. Berubah menjadi seperti yang dia ingin, yang bahkan itu bukan kemauan kita sendiri. Rumit bukan?
Jatuh cinta itu berjuta rasanya, seperti nano-nano, manis asam asin, ramai rasanya, begitu kiranya yang aku rasakan. Tidak bisa didefinisikan lebih dalam, hanya yang sedang jatuh cinta yang bisa mendefinisikan rasanya. Is that true? Absolutely yash!
Tapi, ada yang tidak mengenakkan dari jatuh cinta, berjuang sendiri. Why i said berjuang sendiri? Ya karena aku pribadi melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian dia. Tapi, ya sewajarnya aja, tidak sampai memaksa. Karena yang dipaksakan itu biasanya hasilnya tidak sesuai harapan.
Hm. Kalau ditanya hasilnya sudah sampai mana? Sudah seperti apa? Ya, aku bakal jawab monoton, konstan, tidak berubah. Kenapa seperti itu? Karena semua tidak bisa dipaksakan, semua tidak bisa langsung instan. Semuanya butuh proses. Sabar dan nikmati, itu yang harus dijadikan prinsip. Kalau tidak sabar itu bukan cinta namanya, yang ada malah memaksakan kehendak. Hehe
061217,
Cha❤
Ps. jangan dibawa serius, santai aja dicernanya. Karena yang nulis juga nulisnya sambil cekikikan😂✌
Pada dasarnya, fitrah seorang wanita adalah pemerhati yang tekun. Pemerhati disini bukan berarti, memperhatikan seseorang secara rinci dari atas kepala hingga ujung kaki. Pemerhati bagi seorang wanita itu adalah ketika dia menemukan seseorang yang membuat hatinya berdebar, dia mencari tahu siapa sebenarnya seseorang itu hingga membuat hatinya berdebar.
Fitrah seorang wanita adalah pemerhati yang tekun. Ketika dia mulai merasakan ada hal aneh pada hatinya karena seseorang, dia mulai gelisah, banyak mencari tahu dan akhirnya dia melepas kegelisahannya pada Tuhan dengan meminta agar seseorang itu datang padanya bukan dengan sekuntum bunga, melainkan sebuah cincin.
Fitrah seorang wanita adalah pemerhati yang tekun. Wanita yang amat perhatian bukan yang mendatangi secara langsung seseorang yang dikaguminya, melainkan mendoakannya agar bisa menjadi bagian hidup dari seseorang yang dikaguminya.
Sebagai seorang wanita yang fitrahnya pemerhati yang tekun, kita tidak seharusnya memberitahu secara langsung niat yang seperti apa yang membuat kita menjadi seorang pemerhati yang tekun. Bukan berarti diam juga hal yang benar. Semua ada tahapannya, semua ada masanya, yang harus kita lakukan adalah istiqomah dalam berdoa, tapi doa tanpa usaha itu tidak ada artinya, kita berdoa kemudian berusaha dengan cara yang benar dan menunggu hasil akhirnya (tawakkal).
21092017,
Cha
Ucapan demi ucapan kuterima dari orang-orang terdekatku.
Ulang tahun, menurutku adalah hal yang patut disyukuri karena Tuhan memberikan tambahan nyawa untuk menjalani hidup dan memperbaiki kesalahan di masa lalu.
Kata orang, ulang tahun adalah sesuatu yang harus dirayakan dengan meriah sebagai wujud rasa bersyukur. Tapi menurutku, dengan bertambahnya umur kita seharusnya sedih, kebaikan apa yang sudah kita lakukan selama umur kita berjalan?
Kata orang, ulang tahun adalah pencapaian hidup yang sayang untuk dilewatkan. Tapi menurutku, dengan bertambahnya umur kita seharusnya sadar bahwa kita harus menggali lagi pencapaian hidup yang pernah kita capai sebelumnya.
Kata orang, ketika ada yang berulang tahun sebaiknya diberikan hadiah dalam bentuk fisik sebagai upaya mengapresiasi pertambahan umurnya. Tapi menurutku, hadiah untaian doa dari orang terkasih adalah yang terbaik, karena doa merekalah yang membuat umur kita semakin berkah.
Setiap ulang tahun, aku tak pernah berharap akan mendapatkan hal-hal menakjubkan terjadi karena yang terpenting dalam ulang tahun adalah selalu mengingat bahwa Tuhan menyayangimu dengan sepenuh hati, karenaNya kita masih bisa merasakan hangatnya kebersamaan bersama orang terkasih.
Dirangkai ketika berulang tahun yang ke- 18 tahun
Si pemilik puisi,
Cha.
Setiap orang pasti punya mimpi, tidak mungkin tidak ada. Sama seperti saya, saya punya mimpi. Bukan cuma satu atau dua saja, tetapi banyaaaak. Ketika kamu memiliki mimpi, pastinya kamu tidak ingin hanya dalam khayalan, dalam angan semata. Kamu pasti ingin mimpimu menjadi kenyataan. Dibalik setiap mimpi-mimpi yang ingin kamu raih, kamu tidak bisa lepas dari orangtua, terutama dari doa mereka. Orangtua bukan hanya sebagai penyalur kasih sayang terhadap anak-anaknya, tapi, orangtua sebagai penyokong mimpi anak-anaknya, sebagai pendukung mimpi anak-anaknya melaui motivasi, finansial dan doa. Bukan berarti sepenuhnya orangtua andil dalam mimpi anak-anaknya, bukan. Bukan juga orangtua sepenuhnya mengatur mimpi anak-anaknya, sangat bukan. Anak-anaknya bermpimpi sedang orangtua mendukung, begitu lebih tepatnya.
Jika kamu sudah bermimpi dan selanjutnya ingin mewujudkannya, lanjutkan selagi orangtuamu masih mampu secara finansial mendukung mewujudkan mimpi-mimpimu. Jika kamu sudah bermimpi tapi belum mampu mewujudkannya, tidak masalah, catat terus mimpi-mimpimu dalam memori otakmu, khayalkan, terus berusaha dan belajar, dan yang paling penting jangan lupa minta doa orangtua dan berdoa pada Tuhan dan juga kalau bisa di sholawatin. Dan, jika kamu sudah bermimpi tapi masih banyak orang yang merendahkan mimpi-mimpimu biarkan saja, jangan dipermasalahkan, seperti kata Wirda Mansur; "Kalau masih ada yang nyinyirin mimpi-mimpimu, berarti mimpimu belum gede, gedein, expand it..", nah itu mimpimu belum besar, jangan patah semangat, terus besarin mimpi-mimpimu.
Boleh 'kan kita punya impian? Tentu saja boleh. Tidak ada yang melarang kita punya mimpi, mimpi ya mimpi aja toh yang punya mimpi kan juga kita sendiri, bukan orang lain. So, if we have a dream, jangan merasa kecil karena mimpi kita mungkin terlalu tinggi, terlalu muluk, ya tidak apa-apa, namanya juga mimpi. Mimpimu bisa diwujudkan dengan cara belajar yang giat, berusaha terus dan minta doa orangtua. Teruslah bermimpi hingga mimpimu menjadi kenyataan!
24062017,
Cha
Punya teman tidak? Pasti semua orang mempunyai teman, tidak mungkin tidak ada yang mempunyai teman kecuali benar-benar tidak ada rasa pertemanan dalam dirinya.
Malam ini, saya akan share apa yang mengusik pikiran saya selama beberapa hari terakhir ke dalam sebuah tulisan. Tema tulisan malam ini, pertemanan. Sudah mengerti 'kan arti dari kata teman? Cari di google deh ya. Hehe.
Mulai darimana ya? Begini saja, saya akan mengeksplorasi pandangan saya tentang pertemanan. Menurut saya, pertemanan itu adalah hubungan kerjasama antara satu dengan yang lain, kerjasama dalam hal kepercayaan, solidaritas, hingga kasih sayang. Saya pribadi, merasakan ketiga hal tersebut ketika membangun pertemanan. Tidak langsung seluruhnya saya rasakan, ketiganya datang secara bertahap dan saya menikmatinya.
Teman itu bukan sekadar saling memberi keuntungan, tapi saling memberi dukungan antara satu dengan yang lain. Bagaimana jika teman itu hanya mau diuntungkan saja? Itu sih bukan teman namanya, tapi parasit. Tinggalkan dan abaikan. Begitu saja.
Teman itu, bukan sekedar wadah curhat, tapi sebagai penasehat yang bijak. Bagaimana jika teman itu membocorkan apa yang kita curhatkan? Wah parah banget, itu sama sekali bukan teman namanya, tapi pengkhianat. Sudah tinggalkan, biarkan dia menanggung sendiri dosa-dosanya.
Teman itu bukan sekedar baik di depan kemudian di belakang buruk, tapi teman itu benar-benar baik di depanmu dan ketika kamu jatuh terpuruk dia yang merangkulmu kemudian mengajakmu bangkit dari keterpurukan. Bagaimana jika teman itu bermuka dua, di depan baik tapi di belakang justru menampilkan perangai buruk? Duh, yang itu mah bukan teman, tapi... (Isi sendiri). Ditinggalkan saja dan cari teman baru.
Sebenarnya pertemanan itu sederhana, kamu dan dia harus saling percaya, kamu dan dia harus saling mendukung, kamu dan dia harus saling merangkul dalam kondisi apapun itu, kamu dan dia harus tetap saling berpegangan tangan meski angin bahkan badai sekalipun menerjang. Tidak sulit, sederhana sekali. Tidak ada yang sulit selama kita ikhlas dalam berteman, ikhlas untuk menutupi kekurangan masing-masing dan tidak pamrih dalam berteman.
Kalau kalian punya teman, tolong dihargai perasaannya, ditutupi kekurangannya, dirangkul erat bahunya, dikuatkan jika sedih. Temanmu mungkin tidak meminta banyak darimu, dia hanya ingin kamu ikhlas berteman dengannya.
Bagaimana? Sanggup tidak? Ayolah disanggupin, biar sama-sama nyaman.
25022017,
Cha.
Kamu itu..
Seperti pasir di tepian pantai.
Mudah pergi bila dibelai angin tapi kamu bisa kembali lagi menjelma menjadi debu yang kecil dan susah ditepis.
Kamu itu..
Seperti kumpulan air di samudra luas. Dalamnya hatimu sama seperti dalamnya lautan, yang ketulusannya tak bisa diukur. Tapi aku tidak berani menyelam terlalu dalam, takut tenggelam dan tidak bisa kembali muncul pada permukaan hatimu.
Kamu itu..
Seperti awan yang menggumpal di langit.
Terlihat lembut dan sedap dipandang, tapi terkadang tiba-tiba berubah menyeramkan dan membuatku takut akan gemuruh yang keluar dari lembutmu.
Kamu itu..
Seperti hujan di musim kemarau.
Membuatku rindu bersentuhan dengan percikan airmu, tapi terkadang aku tidak suka kehadiranmu yang secara tiba-tiba mengejutkanku, gumpalan airmu bisa menyakiti bisa menenangkan, tapi.. ada hal yang aku tidak suka dari hujan, selalu pergi tanpa salam perpisahan.
Kamu itu..
Semacam ruang kosong hampa udara yang selalu membuatku sesak jika aku terlalu merindukan.
Kamu itu..
Seperti sebuah kata ambigu yang terkadang aku tak mengerti bagaimana mendefinisikan kamu.
Dengan penuh cinta,
Cha.
Hujan di penghujung Januari.
Mengikis kenangan yang telah lama membeku.
Memaksa luka yang telah tertutup rapat terbuka lebar.
Menarik kenangan pahit dalam ingatan untuk berpencar mengitari memori otak.
Hujan di penghujung Januari.
Sebegitu kerasnya kau memaksa otak untuk meresonasi kenangan di masa lalu.
Dengan goresan pena di penghujung Januari,
Cha.
Ada perumpamaan dalam bahasa Inggris, Silent is gold. Yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, berarti diam adalah emas. Sudah sering kita dengar perumpamaan seperti itu.
Bagi saya, diam adalah perilaku dimana seseorang sedang mengalami pergolakan batin yang sangat pelik. Diam bukan berarti menyelesaikan masalah. Diam bukan berarti menjauh dari masalah. Diam bukan berarti tak mampu menanggung masalah yang dihadapi.
Diam. Satu kata yang sering membuat orang sering salah mengartikan maknanya. Diam itu seperti.. air dalam sebuah bejana. Tak bergerak bila tak disentuh. Tak bergetar bila tak dipukul permukaannya. Dan menenangkan.
Ketika orang diam, mungkin saja dia sedang memikirkan mimpi-mimpinya.
Ketika orang diam, mungkin saja dia sedang mengagumi hidupnya.
Ketika orang diam, mungkin saja dia mengkhayalkan masa depannya.
Mungkin saja, 'kan?
Diam itu identik dengan kesedihan, kegalauan, atau bahkan kehilangan. Benar, memang benar. Kebanyakan memang seperti itu.
Terkadang, saya berpikir ketika saya diam larut dalam kesedihan, keadaan akan berubah seperti semula. Saya salah.
Terkadang, saya berpikir ketika saya diam mencoba mengikhlaskan sebuah kehilangan, kehilangan akan berlalu begitu saja. Saya salah.
Terkadang, saya berpikir ketika saya diam menikmati kegalauan hati saya, kegalauan akan merangkul saya erat menuju kebahagiaan. Lagi-lagi saya salah.
Diam tidak sepenuhnya bisa menyelesaikan masalah. Diam tidak sepenuhnya mengubah keadaan menjadi seperti sedia kala. Diam tidak sepenuhnya membuatmu menjadi bahagia dan lebih baik.
Diammu harus bisa diartikan. Diammu harus bisa membuatmu menemukan solusi dari masalah yang kamu hadapi. Diammu harus bisa membuatmu menjadi orang yang semakin kuat. Diammu harus bisa membuatmu mengerti arti sebuah kehidupan.
Diam adalah emas, sebuah perumpaan bagi orang yang semakin dewasa dalam menyederhanakan masalah dihidupnya.
15012017,
Cha
Apa kabar, hati?
Lama tak bersua. Masih sehat seperti dulu, 'kan?
Hati, kamu tahu?
Sudah lama aku tak merasakan keberadaanmu.
Sakitkah, perihkah, atau hampakah?
Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan.
Mungkin ketiganya kamu merasakannya berbarengan.
Aku selalu berpikir bahwasanya kamu masih memendam dendam pada orang yang melukaimu.
Aku selalu berpikir bahwasanya kamu masih belum bisa menerima keadaan tentang luka yang kamu alami.
Aku selalu berpikir bahwasanya kamu selalu menanti seseorang untuk mengisi kekosonganmu.
Bagiku itu semua omong kosong yang tak lebih dari sekadar gurauan sendu.
Persetan dengan perih.
Persetan dengan luka.
Persetan dengan hampa.
Semua itu hanya omong kosong yang kebenarannya mustahil dipercaya.
Apa kabar, hati?
Lama tak bersua.
Masih utuh seperti dulu, 'kan?
Hati, tahukah kamu?
Aku tidak tega membiarkan orang menyakitimu, melukaimu, bahkan menganggapmu sebuah lelucon hingga siapa saja bisa menertawakan kepolosanmu.
Kamu berjuang, seseorang berusaha mematahkan perjuanganmu.
Kamu mencintai sepenuh hati, seseorang berusaha keras menyakitimu.
Kamu menahan rindu, seseorang berusaha pergi meninggalkanmu dalam kesepian panjang.
Apa kabar, hati?
Lama tak bersua.
Masih bahagia seperti dulu, 'kan?
Aku tahu kamu pandai menyimpan rasa.
Aku tahu kamu pandai menahan rindu.
Aku tahu kamu kuat berjuang dalam penantian.
Aku tahu kamu pandai menepati janji setia. Aku tahu kamu. Aku tahu.
Tetap disana ya, jangan pernah berubah meski berulang kali seseorang berusaha melukai bahkan menyakitimu.
Aku tahu kamu kuat.
Aku tahu kamu bisa menjalani kehidupan bersamaku.
Tetap disana ya, kita akan selalu bersama menggenggam erat kebahagiaan.
03012017
Cha.