Cha Disini

Cari aku, jika tulisan-tulisanku membuatmu merasa lebih baik.

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Anyelir putih; memiliki arti kesetiaan, juga mewakilkan perasaan cinta ataupun rasa syukur yang murni, menggebu, mendalam.

Menemukan asa yang telah lama hilang di sebuah persimpangan jalan, raga yang sekian waktu telah mati seperti kembali dipasangkan dengan rohnya. Kembali hidup seperti saat pertama kali Tuhan hadirkan ke dunia, bersih tanpa cela.

Asa itu adalah kamu.

Menemukanmu yang bersembunyi diantara rimbunan dedaunan adalah sebuah ketidakmungkinan.
Kamu adalah satu dari sekian pengharapan yang selalu menjadi bagian terakhir yang ingin aku wujudkan. 

Lalu,

Ketika kamu mencuat dari rimbunan dedaunan, dengan penuh bangga kamu memamerkan keelokan warna dan pesona indahmu, hati siapa yang tidak luluh melihatnya?

Menemukanmu seperti mencari harta karun di pulau terpencil. 
Hanya ada peta dan kompas yang menjadi tumpuan.
Percaya diri dengan keberanian yang aku miliki adalah suatu keajaiban yang akan membawa langkahku pada akhir pencarian antara ditemukan atau menemukan.

Pada akhirnya, aku ditemukan sekaligus menemukan.

Tidak banyak harapan yang aku bubung.
Tidak banyak doa yang aku rapalkan.
Tidak banyak usaha yang aku lakukan.
Aku hanya bersimpuh dan menunggu.

Hari itu pasti akan datang.
Aku sudah bisa menerka.

Dari kejauhan, aku melihat dengan jelas ada sebuah kapal tengah berlayar, angin yang membentangkan layar kapalnya datang membawa pesan; kapal itu akan bersandar di dermagaku.

Aku tidak percaya.
Dermaga ini sudah lama tidak dipijak.
Dermaga ini tidak pernah kedatangan kapal sejak beberapa tahun lalu.
Dermaga ini sudah berdebu dan tidak layak dijadikan sebagai sandaran.

Sebentar.

Aku memintanya untuk menunggu. Aku harus memastikan bahwa kapalnya akan menetap selamanya di dermagaku atau hanya sementara. Aku harus memastikan itu.

"Aku berlayar sudah sejak lama, berlayar sejauh yang aku mampu, mencari dermaga yang tepat sebagai sandaran seumur hidup. Apalagi yang kamu ingin pastikan? Kamu tidak percaya? Aku bisa saja berputar arah dan mencari dermaga lain, tetapi hanya dermagamu yang tepat untuk aku jadikan sandaran. Apa itu belum cukup untuk kamu yakini?", bunyi pesan yang ia titipkan pada angin.

Aku terdiam dan mencerna seluruh pesannya.
Aku telah kalah dan dia menang dengan mudahnya.

Haruskah aku merayakan kebahagiaan atas kemenangan yang telah ia dapatkan?

Memenangkan hati seseorang bukan perkara mudah.
Sebelum itu,
Ada beberapa rintangan yang harus dilewati.
Ada beberapa orang yang harus tersakiti.

Sejujurnya, aku juga tidak kalah.
Aku memenangkan pertarungan, sama sepertimu.
Aku menang, kamu menang, kita berdua sama-sama menang.
Aku ditemukan olehmu dan kamu menemukan diriku.

Ditemukan olehmu membuatku merasa dicintai. Lalu, ketika aku menemukanmu, apa kamu sudah merasa dicintai?
Aku harap jawabanmu sama sepertiku, anyelir putih.

22.06.20,

Cha


Tulisan ini sudah ditulis sejak tahun lalu, sejak saya memilih untuk menjadi manusia yang tidak percaya diri. Entah kenapa pada saat itu saya selalu merasa kecil dari orang lain. Merasa bahwa segala usaha saya begitu sia-sia karena segala hal yang saya harapkan tidak pernah berjalan sesuai rencana. Hingga isi kepala saya dipenuhi oleh berbagai macam hal-hal yang memperburuk suasana hati saya dan akhirnya saya berhenti di satu titik untuk menyebut diri saya sebagai manusia yang paling tidak beruntung. 

Semua itu berawal ketika saya terlalu berlebihan dalam menilai orang lain dan terlalu iri pada apa yang orang lain capai. Saya berusaha mati-matian untuk mengembalikan keadaan seperti semula, saat rasa iri itu tidak pernah menyentuh hati saya. Namun, memasuki pertengahan tahun rasa iri itu kembali muncul. Padahal saya sudah tidak ingin lagi terikat dengan hal-hal bodoh seperti itu, tapi kenapa rasa iri itu kembali datang dengan wujud yang lebih menyeramkan? Saya takut jika perasaan iri itu tumbuh menjadi kebencian terhadap orang lain, saya benar-benar takut. Melalui cerita yang diceritakan kembali oleh orang lain, saya berusaha untuk membuat diri saya tetap dalam keadaan tenang seperti tidak terjadi apa-apa padahal dada saya sesak dan suasana hati saya memburuk. 

Suatu ketika, saya memutuskan untuk berhenti melakukan hal-hal bodoh seperti itu dan mengambil langkah untuk memperbaiki hidup saya dengan melakukan hal yang saya sukai, hal yang membuat saya merasa menjadi diri saya seutuhnya. 

Awal tahun 2020, saya terpikir sebuah pertanyaan, kenapa kita harus membicarakan orang lain dalam hal pencapaian yang mereka raih, tindakan apa yang membuat mereka berada di titik yang selalu mereka inginkan sampai sikap mereka yang mengundang rasa iri kita sebagai manusia? 

Kenapa kita harus saling menceritakan hal-hal yang termasuk ke dalam privasi seperti itu? Kenapa? Pastinya, kita semua juga memiliki privasi, dan bagaimana perasaan kita apabila ada yang menceritakan privasi yang kita miliki kepada orang lain?

Izinkan saya bermonolog.

Jujur aja.

Saya merasa terlalu banyak membicarakan kelebihan orang lain sampai lupa mengembangkan lebih dalam mengenai kelebihan saya sendiri, lebih tepatnya mengabaikan.
 
Saya merasa seperti terlalu banyak memikirkan orang lain dengan segudang pencapaiannya ketimbang memikirkan diri saya sendiri yang miskin dengan mimpi-mimpi, yang minim dengan pencapaian. 

Saya merasa seperti terlalu banyak menyimpan rasa iri terhadap proses “kilat” yang dilalui orang lain dalam menggapai mimpi-mimpinya hingga saya sadar bahwa rasa iri itu berubah menjadi rasa tidak percaya diri karena saya malas untuk mengubah kegagalan yang pernah saya alami.

Semakin hari, saya merasa seperti kapal tanpa nahkoda di tengah lautan, terombang-ambing tak tentu arah, meskipun ada angin yang menggerakkan, tetapi jika tak ada nahkoda yang menjalankan kapal dan tak ada  tujuan sebagai titik akhir tempat berlabuh, akan berlayar ke arah mana kapal itu? Lama-kelamaan, kapal itu akan rusak karena berulang kali terhempas kerasnya gelombang dan kemungkinan terburuk akan karam dengan kondisi yang tidak utuh.

Terlalu banyak keinginan untuk menjadi seperti orang lain, bukan membuat saya bergegas, tetapi justru membuat saya semakin malas. Tidak lain dan tidak bukan karena saya seringkali membandingkan diri saya dengan orang lain. 

Sampai pada suatu hari, manusia yang tidak tahu bersyukur seperti saya ini disadarkan oleh Tuhan melalui seseorang. Rasanya, saya seperti ditampar oleh usaha-usaha yang dilakukannya. Saya seperti dihantam badai hingga membuat rasa-rasa “itu” luruh seketika. Mungkin, darinya, Tuhan ingin saya tidak melulu menilai orang lain berdasarkan permukaan luarnya saja. Sejujurnya, saya bukan manusia yang kuat. Beberapa saat setelah itu, saya memilih menyendiri dan membatasi pembicaraan dengan orang lain karena saya sadar bahwa saya telah menyakitinya secara tidak langsung dan tanpa ia ketahui.

Ketika saya sibuk menebarkan rasa iri dengan membicarakan pencapaian yang dia raih melalui proses yang tidak sebentar, saya justru tidak memahami bahwa yang saya lihat, dengar dan bicarakan hanya bagian permukaannya saja. Saya merasa seperti manusia yang tidak yang tahu malu. Rasa iri yang saya miliki terhadapnya yang sekian waktu berubah menjadi dengki, tidak sebanding dengan kerja kerasnya dalam merealisasikan mimpi-mimpinya.

Ketika saya menyadari bahwa saya telah melakukan sebuah kesalahan, rasanya saya tidak sanggup untuk mengajaknya berbicara atau melihat wajahnya barang sejenak. Saya merasa seperti seluruh diri saya diselimuti oleh hal-hal buruk dan tidak pantas untuk dipertemukan oleh dirinya yang dilingkupi kebaikan.

Terlepas dari itu semua, dari keburukan-keburukan yang pernah saya lakukan, saya ingin kamu memahami bahwa tidak semua yang terlihat, terdengar dan diceritakan itu benar adanya. Tidak semua hal bisa menjadi tolak ukur dalam menilai seseorang. Terkadang, bumbu-bumbu iri itu secara tidak sengaja ditambahkan pada suatu cerita hingga membuat kita menjadi ikut terlena sampai lupa bahwa kita adalah manusia, sama sepertinya. 

Dia berproses, kamu juga berproses.

Hanya saja, prosesmu mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar. Lihat lebih dalam lagi, tanya hatimu, kenapa sampai detik ini proses yang kamu jalani belum menemukan titik akhir yang benar-benar jadi tujuanmu. Tanya hatimu, lebih sering.

Mungkin jawabannya bukan tentang waktu, tetapi tentang diri kamu yang berulang kali memilih mundur sebelum memulai. Tentang rasa percaya diri yang mulai pudar. Tentang keberanian yang tidak kunjung menghalau ketakutan. Tentang layu sebelum berkembang.

Sebenarnya, rasa-rasa “itu” timbul dari diri kamu sendiri. Akibat kelalaianmu dalam melindunginya dari rasa-rasa yang tidak seharusnya ada. Bukan dia atau mereka yang menjadi sumber permasalahannya, tapi dari diri kamu sendiri yang tidak mensyukuri dan menghargai sebuah proses. 

Feb '19,

Cha



Terikat dengan masa lalu yang menyakitkan sangatlah menyesakkan. Hari-harimu dipenuhi oleh hal yang menyengsarakan yang selalu memenuhi pikiran. Bukannya kamu tidak ingin melepaskan, hanya saja waktu belum memberikan sinyal yang pasti mengenai bagaimana caranya menutup lembaran kisah yang lalu tanpa meninggalkan noda berupa penyesalan.

Perkara melepaskan memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Butuh waktu yang tidak sebentar,
Butuh keberanian yang kuat, dan
Butuh keikhlasan yang datang dari hati.

Melepaskan erat kaitannya dengan kesiapan untuk membuka lembaran baru. Jika hati masih belum siap, maka belum saatnya kamu melepaskan. Waktunya belum tepat, karena hatimu masih belum ikhlas untuk melupakan semuanya. Namun, terus-menerus dikekang oleh hal yang bernama masa lalu juga tidak bisa dikatakan sebagai pembenaran atas pahitnya melepaskan. Lalu, bagaimana?

Perkara melepaskan tidak selalu berjalan dengan tuntas tanpa bekas.

Kamu yang paling paham dengan dirimu saja, belum tentu bisa melepaskan tanpa paksaan. Kamu harus tahu bahwa tidak semua hal yang dilakukan dengan terpaksa akan berakhir tanpa cela. Perlu kamu pahami, melepaskan sesuatu yang pernah menjadi suatu kebanggaanmu memerlukan proses yang tidak sebentar. Bisa berhari-hari hingga bertahun-tahun. Tergantung dari dirimu sendiri, pilihan itu ada pada dirimu.

Perkara melepaskan selalu menjadi hal yang dibenci setiap orang, orang yang patah hati misalnya.

Bukan, bukan melepaskan hal yang membuat hancur yang menjadi permasalahannya. Melainkan, melepaskan seluruh kenangan yang melekat di dalam memori yang amat sangat tidak disukai. Kenangan yang sudah terpatri di dalam memori akan selalu ada dan menjadi bagian dalam sebuah perjalanan kasih sayang. Siap melepaskan berarti siap mengesampingkan ego untuk mengubur dalam-dalam seluruh kenangan yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu.

Perkara melepaskan sudah seharusnya memiliki tujuan yang pasti tentang bagaimana membuatmu menjadi seseorang yang pantas dihargai hati dan perasaannya.

Ketika kita memulai perjalanan baru tanpa melihat hal yang telah berlalu, artinya kita sudah memilih. Memilih untuk tidak terikat lagi, memilih untuk berdiri seorang diri tanpa bantuan pondasi darinya yang pernah menghancurkan pondasi itu sendiri, memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang sudah menerima dan memilih untuk mengganti kenangan-kenangan yang menyakitkan dengan hal yang menyenangkan. Ketika saat itu tiba, saat dimana kamu sudah memilih apa yang terbaik bagimu dan hidupmu, maka kamu sudah tidak lagi bertanggung jawab atas masa lalumu yang amat pelik. Ketika kamu sudah memilih dan membuat keputusan, maka putuslah ikatanmu dengan hal yang bernama masa lalu. Ketika kamu sudah memilih, artinya kamu sudah melepaskan.

Perkara melepaskan merupakan bagian dalam perjalanan kasih sayang, hanya saja prosesnya tidak mudah dan lebih banyak membutuhkan waktu.

Jika kamu sudah memilih dirimu sebagai seseorang yang amat berharga diantara hal-hal yang sepatutnya dihiraukan, maka melepaskan tidak akan sesulit itu.

Aku yakin kamu bisa. Aku percaya itu.


020520,


Cha






Jadi, gini..

Kamu tidak perlu cemas atas perkataan orang lain yang terkadang menyakitkan untuk kamu dengar.
Sakit hati itu, boleh.
Tapi ingat, hatimu harus tetap baik-baik saja.

Kamu juga boleh bersikap egois dan apatis.
Tapi ingat, sesama makhlukNya kamu harus tetap saling menghargai.
Kamu nggak boleh hidup dengan memakan perkataan orang lain.

Kamu itu pintar, untuk orang lain tahu.
Mereka nggak bisa mengataimu dan mencibirmu sesuka hati.
Kenapa?
Karena kamu dan mereka itu sama di hadapan Tuhan.

Sikap yang haus akan pengakuan sama sekali nggak ada nilainya di mata Tuhan.
Kalau merasa nggak suka, ya, cukup dipendam saja.
Toh, sifat paling buruk yang kamu miliki hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu.

Cha


Setelah ini, aku harus bagaimana?

Dalam kondisiku yang sudah penuh luka, bisakah aku memohon padamu untuk kembali?
Bukan kembali datang memberikan kenyamanan lalu pergi lagi, bukan.
Aku hanya memintamu kembali untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan apakah aku salah telah banyak menaruh harapan padamu?

Aku bingung.
Melangkah mundur aku tidak sanggup, melangkah maju juga belum mampu.
Untuk berdiri membenahi keadaan saja rasanya aku tidak memiliki tenaga.
Pengaruhmu terlalu besar buatku.
Kehadiranmu yang secara tiba-tiba membuat nyaman saat lukaku di masa lalu belum pulih sepenuhnya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.

Jujur, kehadiranmu kemarin yang bukan suatu kebetulan tak bisa kupungkiri bahwa aku telah jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya padamu.

Apa aku salah kali ini?
Mencoba melompat dari luka yang sebelumnya sempat kudapat menuju kenyamanan yang menunggu tepat di depan mata.
Mencoba berlari dari kenyataan pahit yang sempat menjadi sandaran menuju setitik harapan baik yang mengandung kebahagiaan.
Apa aku salah?

Setelah berhari-hari memikirkan hal-hal serumit itu, aku semakin meyakini bahwa memang ada yang salah.
Perasaan ini tak seharusnya tumbuh untuk orang yang tidak memahamiku secara utuh.
Rasa nyaman ini tak seharusnya aku terima secara percuma darimu.
Luka yang sebelumnya masih menganga, kini justru menciptakan luka baru yang lebih pedih dan itu karena kehadiranmu.

Aku diam sejenak, lalu menyimpulkan;
Mungkin ini yang dinamakan takdir.
Takdir yang tak pernah sejalan dengan pintalan-pintalan harapan.
Takdir yang tak mempersatukan, namun justru memporak-porandakan.

Setelah ini, aku harus bagaimana?

19.03.20

Cha


Kadang aku berpikir, menghilang itu lebih baik daripada ada tapi tak dianggap olehmu.
Kadang aku juga berpikir, memerhatikanmu dari jauh lebih baik daripada menanyakan kabarmu secara langsung.

Rasanya, aku ingin menyerah. Bukan karena kamu yang tak pernah menganggapku ada. Tapi, karena sudah begitu sering aku mengorbankan perasaan untuk satu orang yang tak memiliki rasa menghargai.

Aku berlebihan? Katakan saja begitu. Aku memang menaruh harapan yang lebih besar, lebih besar dari sebuah ekspetasi yang pada kenyataannya sangat menyakitkan.

Sesekali aku ingin bertanya padamu, "kamu menahami konsep tentang memberi dan menerima nggak?"
Kamu memberikan harapan, aku melahapnya.
Kamu memberikan kenyamanan, aku merasa nyaman.
Kamu memberikan celah untukku agar bercerita, aku mengeluarkan seluruh bebanku.
Itu konsep memberi dan menerima yang aku pahami.

Lalu, kamu? Aku tidak yakin kamu memahami konsep itu sepenuhnya.
Buktinya? Kamu menghilang perlahan, layaknya tetesan air hujan yang mengering disinari oleh panas matahari.
Aku tidak yakin kamu memahami dengan betul konsep itu.

Seperti pada saat aku datang menghampirimu, kamu malah diam tak memberiku ruang untuk berbicara.
Aku disini korban, untuk kamu tahu.
Korban atas harapan yang kamu beri terlalu tinggi.
Korban atas kenyamanan yang kamu selalu bagi.

Aku juga, sih yang salah.
Menganggapmu lebih baik dari dia yang sebelumnya pernah menggores luka, tapi ternyata sama saja, malah menambah luka.
Aku juga tidak memiliki potensi untuk terus bersanding disampingmu karena aku sudah bukan prioritasmu.

Setelah ini, aku harus bagaimana?

18.03.20

Cha


Keluarga, sahabat, teman bahkan pasangan sekalipun nggak bisa bersikap seenaknya untuk mengatur hidupmu. Seringkali, perasaan tidak enak untuk menolak memegang kendali atas dirimu pada circle terdekatmu. Lebih mengenaskannya lagi, circle terdekatmu tidak menyadari hal itu dan membuatnya semakin menjadi.

Ingin sekali rasanya berteriak menyuarakan suara hati mengenai rasa tidak nyaman, tidak enak atas perlakuan-perlakuan yang terkadang sifatnya menjadi keterlaluan. Sungguh, aku, kamu bahkan siapapun itu tidak pernah meminta diatur hidupnya oleh oranglain yang dalam tanda kutip "circle terdekat". Aku tahu, ada banyak kesalahan dalam diriku yang mungkin di mata oranglain perlu dibenahi. Tapi, menurutku, aku juga memiliki andil atas diriku yang banyak dilumuri oleh kesalahan-kesalahan.

Egois. Sungguh, aku ingin menjadi egois sesekali. Ingin merasakan memegang kendali atas setiap keadaan. Ingin merasakan terbebas dari belenggu keterpaksaan yang sering kurasakan. Ingin merasakan kebebasan atas diriku sepenuhnya. Aku tahu itu semua merupakan hal yang sulit, namun, aku lebih merasa iba pada diri sendiri yang tak pernah sekalipun memeluk keegoisan untuk dapat dilampiaskan.

Seringkali, orang-orang yang masuk ke dalam circle terdekat melampiaskan keegoisannya secara membabi-buta. Mengikuti segala kemauannya, menuruti perintahnya dan membuatku seakan-akan harus tunduk atas keadaan di sekitar.

Aku. Benci. Itu.

Hey, aku juga berhak atas hidupku. Hidupku juga sangat berharga, untuk kau tahu. Ada banyak hal yang belum bahkan tak sempat aku realisasikan bersama diriku dan itu karena buah dari keegoisanmu.

Sesekali aku juga mau sepertimu, menjadi egois; menjadi pemegang kendali atas keadaan.

19012020,

Cha
Newer Posts Older Posts Home

Tentang Aku

Mau mengenal aku lebih dalam? Buka sosial mediaku, tapi jangan kecewa karna yang aku tampilkan terlihat sempurna tidak ada cela. Barangkali mau sharing atau discuss, boleh dm salah satu sosial mediaku.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Hai, kamu pembaca yang ke

Semua Tulisanku

  • ►  2025 (7)
    • ►  December (1)
    • ►  August (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2020 (7)
    • ▼  July (1)
      • Anyelir Putih
    • ►  May (2)
      • Tentang Menghargai Sebuah Proses
      • Perkara Melepaskan
    • ►  March (3)
      • Jadi, Gini..
      • Setelah Ini, Aku Harus Bagaimana? (Bag. II)
      • Setelah Ini, Aku Harus Bagaimana?
    • ►  January (1)
      • Sesekali Bersikap Egois
  • ►  2019 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  October (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)

Labels

  • Article
  • Experience
  • Motivation
  • Part of My Feeling
  • Poetry
  • Random
  • RizkaTalk
  • SelfHealingSeries

Paling Sering Diceritakan

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates