Yang Pergi, Biarlah Pergi

Terkadang, melepas seseorang yang sangat berharga dalam hidup sangatlah sulit.
Membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Membuat hati semakin hari semakin bertambah sakit.
Lantas, aku bertanya pada sang pemilik hati, masihkah ia berharap pada orang yang membuat hidupnya menjadi rumit?

Aku sangat berharap banyak padanya untuk tidak percaya pada omongan kosong seorang laki-laki yang tak ayal ujung-ujungnya akan membuat dirinya sakit hati. Aku tahu betul dia ini orangnya seperti apa. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya.

Ketika dia memutuskan untuk memulai hubungan dengan laki-laki yang sedari dulu mendekatinya, dia bercerita padaku, padanya, pada kita semua, sahabat baiknya. Saat itu, dia terlihat bahagia, semakin hari semakin bahagia, wajahnya merona tiap kali aku bertanya tentang sejauh mana kedekatan antara dirinya dan teman dekatnya.

Hari berlalu, tahun demi tahun berganti, empat tahun sudah dirinya menapaki masa-masa "indah" mereka, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain.

Setelah dia merayakan dua tahun hubungannya, dia mulai jarang bercerita padaku dan pada yang lainnya tentang bagaimana kedekatannya yang sudah berlangsung selama beberapa tahun belakangan ini. Tiap kali kulihat wajahnya, rona-rona bahagia saat pertama kali dia memutuskan untuk memulai hubungan dengan laki-laki yang sudah lama mendekatinya perlahan berubah menjadi rona wajah yang terlihat sendu. Wajahnya penuh kekhawatiran, kecemasan, ketakutan hingga kesedihan yang amat mendalam. Aku, yang notabene adalah sahabat baiknya sama sekali tidak berani bertanya sebelum dia sendiri yang memutuskan untuk mencurahkan seluruh isi hatinya padaku.

Aku sadar bahwa setiap orang memiliki batas privasi yang tidak dapat dimasuki selain yang memiliki privasi itu sendiri, oleh sebab itu aku diam seakan tak terjadi apa-apa. Aku juga memiliki batas privasi sama sepertinya, jadi lebih baik tidak memasukinya sebelum orang itu sendiri yang mengizinkan untuk memasuki batas privasinya. Hm. Aku membiarkannya merenungi masalahnya sendiri tanpa ikut campur sedikitpun, tetapi tidak mengabaikannya begitu saja. Perlu kuberitahu sekali lagi, aku tidak akan memasuki batas privasinya sebelum dia mengizinkanku untuk masuk.

Mungkin, dia sudah tidak tahan lagi dengan gejolak di hatinya, rasa sakit yang dia pendam sendiri begitu lama, tangisan yang tak dapat dia luruhkan, pada akhirnya semuanya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya, dia tak peduli lagi dengan yang ada di sekitarnya, hanya isakan tangis yang keluar. Airmatanya bahkan sampai mengering, membekas di pipinya. Setelah cukup lama dia meredakan tangisnya, menenangkan dirinya, dia mulai menceritakan semuanya. Cerita tentangnya, tentang lelakinya, tentang kisah cintanya yang menyedihkan.

Mendengarkan dia bercerita tanpa jeda, membuatku tak ingin mendengarnya bahkan yang ada hanya rasa sesak di dada. Sorot matanya sendu yang penuh dengan perasaan rindu seakan membenarkan bahwa dia memang sedang risau.

Ah, ini kali pertama aku mendengarkan disertai isakan. Pertama kali aku ikut merasakan disertai tangisan.
Dia, sungguh perempuan yang hebat.
Dia mampu mengesampingkan ego demi sebuah hubungan yang ia harap tak ada retakan.
Dia mampu bersikap biasa-biasa saja demi laki-laki yang sikapnya begitu menyesakkan dada.
Dia mampu tersenyum disaat hatinya sedang sangat mendung.

Dan, pada akhirnya dia benar-benar ikhlas melepas yang tak pantas dipertahankan.
Dia merelakan meski hatinya masih ingin mempertahankan.
Dia membiarkannya pergi meski dirinya tak cukup mengerti mengapa ini semua bisa terjadi pada dirinya yang lemah ini.

Cukuplah kali ini dia disakiti berkali-kali tanpa henti.
Cukuplah kali ini dia mengeluarkan airmata untuk hal yang sia-sia.
Cukuplah kali ini dia membiarkan hatinya mati untuk seorang yang tak pantas dicintai.

Yang pergi biarlah pergi, suatu saat pasti Tuhan akan ganti.
Yang hilang biarlah hilang, suatu saat pasti Tuhan ganti dengan yang tidak mudah dikenang.
Yang lalu, biarlah berlalu, suatu saat pasti Tuhan ganti dengan yang tidak akan membuat hati sendu.


04032018,

With love, Cha






1 comments