Rasa Percaya




Sekalinya memberikan kepercayaan pada seseorang, aku benar-benar memberikan rasa percayaku sepenuh jiwa dan setulus hati. Karena bagiku, tiada yang lebih baik ketika memberikan sebuah kepercayaan pada seseorang seharusnya dilakukan dengan hati yang tulus dan jiwa yang menerima secara utuh.

Namun, suatu ketika kepercayaanku dilunturkan oleh satu dan lain hal. Ketika kepercayaanku dihancurkan oleh satu hal yang amat menyakiti hati. Ketika kepercayaanku dianggap sebagai omong kosong belaka. Begitu mudahnya mengatakan bahwa rasa percayaku padamu hanya sebatas tulisan di atas kertas yang bisa dihapus kapan pun kamu ingin. Sungguh, tidak bisa diterima akal sehat.

Ibarat air yang diisi di dalam bejana yang berlubang, sia-sia. Rasa percaya yang aku timpakan padamu kau anggap begitu tak berarti. Kehilanganmu masih bisa aku terima, namun hancurnya kepercayaanku padamu yang menyayat hati tidak dan tidak akan pernah bisa aku terima.

Tidakkah kamu merasa hancur dan sakit hati? Orang yang begitu kamu percaya, menghancurkannya dalam sekejap mata. Meluluhlantakkan seluruh janji-janji yang dibangun bersama di atas kepolosan diri masing-masing.

Hancur.

Sirna.

Hilang.

Itu yang hatiku rasakan. 

Lalu, kini kamu ingin mengambil kembali rasa percaya yang pernah aku tarik darimu? Tidak semudah itu. 

Pernah nggak kamu berpikir barang sejenak tentang perasaanku yang selalu kamu khianati?
Pernah nggak kamu berpikir barang sejenak tentang janji-janji yang nggak pernah kamu tepati?
Pernah nggak kamu berpikir tentang ketulusanku dalam mempercayaimu sebagai seorang yang amat berarti dalam hidupku?
Pernah nggak?

Well done.
Cukup sekali aku menaruh rasa percaya sepenuhnya dengan seseorang. 
Cukup sekali aku mengutuk diriku untuk tidak dikhianati kembali. 
Cukup sekali aku menelan janji-janji yang tidak berarti.
Cukup sekali dan itu denganmu. 
Tidak akan pernah lagi, wahai kamu.

Selamat menemukan rasa percaya itu kembali, pada orang lain. 
Semoga kamu tidak mengkhianatinya (lagi).

010719,

Cha

0 comments