Setelah ini, aku harus bagaimana?
Dalam kondisiku yang sudah penuh luka, bisakah aku memohon padamu untuk kembali?
Bukan kembali datang memberikan kenyamanan lalu pergi lagi, bukan.
Aku hanya memintamu kembali untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan apakah aku salah telah banyak menaruh harapan padamu?
Aku bingung.
Melangkah mundur aku tidak sanggup, melangkah maju juga belum mampu.
Untuk berdiri membenahi keadaan saja rasanya aku tidak memiliki tenaga.
Pengaruhmu terlalu besar buatku.
Kehadiranmu yang secara tiba-tiba membuat nyaman saat lukaku di masa lalu belum pulih sepenuhnya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.
Jujur, kehadiranmu kemarin yang bukan suatu kebetulan tak bisa kupungkiri bahwa aku telah jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya padamu.
Apa aku salah kali ini?
Mencoba melompat dari luka yang sebelumnya sempat kudapat menuju kenyamanan yang menunggu tepat di depan mata.
Mencoba berlari dari kenyataan pahit yang sempat menjadi sandaran menuju setitik harapan baik yang mengandung kebahagiaan.
Apa aku salah?
Setelah berhari-hari memikirkan hal-hal serumit itu, aku semakin meyakini bahwa memang ada yang salah.
Perasaan ini tak seharusnya tumbuh untuk orang yang tidak memahamiku secara utuh.
Rasa nyaman ini tak seharusnya aku terima secara percuma darimu.
Luka yang sebelumnya masih menganga, kini justru menciptakan luka baru yang lebih pedih dan itu karena kehadiranmu.
Aku diam sejenak, lalu menyimpulkan;
Mungkin ini yang dinamakan takdir.
Takdir yang tak pernah sejalan dengan pintalan-pintalan harapan.
Takdir yang tak mempersatukan, namun justru memporak-porandakan.
Setelah ini, aku harus bagaimana?
19.03.20
Cha


0 comments