Satu Frekuensi



"Karena kita nggak satu frekuensi, lebih baik menyudahi daripada menjadikan kita berdua saling melukai."

Pernah dengar nggak hal yang sama maknanya seperti itu? Mungkin, sering banget kali ya. Kalau aku sih, lebih sering liatnya di twitter, melalui tweet para sesepuh. hehe. Yang main twitter udah dari lama pasti taulah.

Satu frekuensi, artinya satu tujuan, selaras antara hati dan pikiran. Dalam hal ini, satu frekuensi nggak hanya diperlukan dalam hubungan saja, tetapi juga dalam pertemanan. Nggak, aku nggak mau bahas yang masalah pertemanan, karena suka merembet kemana-mana, nantinya. Aku mau fokus bahas 'satu frekuensi dalam hubungan' aja. Gimana, nih, para pujangga cinta?

Sejujurnya, aku, sama sekali belum pernah terjebak dalam sebuah hubungan yang di dalamnya ada dua orang yang hati dan pikirannya selaras, ada dua orang yang kalau sudah bertemu akan sama-sama nyambung membicarakan sesuatu, satu frekuensi, i mean. Nggak semua orang bisa bertemu secara gamblang dengan seseorang yang satu frekuensi dengan dirinya sendiri. Kadang, kita yang sifatnya egois dipertemukan dengan orang yang egois pula, sifatnya memang sama, tetapi jalan pikiran keduanya pastilah berbeda. Dan sifat yang sama-sama egois itu, nggak sehat, bisa menimbulkan kesalahan yang fatal dikemudian hari.

Satu frekuensi. Sepikiran, sehati dan sejiwa. Kamu perlu memaknai ketiga hal itu, menelaahnya lebih dalam, dan memastikan ketiga hal itu ada pada seseorang yang kamu temui. Memastikan; bahwa orang yang kamu temui benar-benar satu frekuensi dengan dirimu. Bisa jadi, ketika kamu bertemu dengannya, yang awalnya kamu menganggap dia satu frekuensi dengan kamu hanya karena hobi kamu dan dia sama tetapi pada hari-hari selanjutnya prinsip kamu mulai tidak seimbang dengannya. Itu akan terlihat dari cara kamu berpikir dan cara dia berpikir yang tidak sejalan. Kamu memilih melintasi jalan yang lurus sedang dia memilih jalan yang berkelok-kelok. Kamu memilih untuk menjadi tulus sedang dia memilih untuk menjadi pamrih. Dan, pada akhirnya, kamu dan dia akan berujung jalan masing-masing alias ber-pi-sah. Karena apa? Karena kamu dan dia nggak satu frekuensi, dear.

Satu frekuensi. Seprinsip, sejalan, dan sedekat nadi. Ketika nanti kamu bertemu dengan dia yang satu frekuensi dengan kamu, aku ingin beritahu bahwa jangan pernah sia-siakan dia yang satu frekuensi denganmu, dengan hati dan pikiranmu. Karena, menemukan yang satu frekuensi butuh banyak perjuangan dan banyak yang terkorbankan. Kalau dia yang satu frekuensi denganmu kamu sia-siakan, butuh berapa lama kamu akan menemukannya kembali? Sehari? Seminggu? Sebulan? Nggak semudah itu, dear. It takes so many times. Kesempatan itu nggak datang dua kali, sama seperti dia yang satu frekuensi denganmu, dia nggak datang dua kali tapi sekali dengan kenangan yang akan terus membekas.

11102018,

Cha

0 comments