Berpisah Secara Baik-Baik, Benarkah?



Berpisah secara baik-baik itu nggak ada, hanya istilah saja; istilah bagi hati mereka yang terlanjur dibuat patah oleh prinsip, ego dan kepercayaan yang nggak sejalan. 
Banyak sekali pasangan yang ketika berpisah, mereka mengumumkan pada semua orang bahwa mereka berpisah secara baik-baik. 
Percaya nggak kalau mereka berpisah secara baik-baik? 
Kalau aku, nggak percaya. 
Fisik memang terlihat baik-baik saja, tapi bagaimana dengan hati? Tidak ada yang tahu. 
Boleh jadi, ketika mereka berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang, hati mereka tengah dirundung mendung. 
Boleh jadi, ketika mereka berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang, mereka tengah menguatkan hati dengan mendoktrin pikiran mereka dengan kalimat "Kamu kuat wahai hati, kita bisa melewati ini semua, kita akan baik-baik aja..".

Berpisah secara baik-baik itu nggak ada, nggak pernah ada. 
Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan; segalanya berakhir dengan kesedihan, keterpurukan dan kehilangan. 
Apapun yang terjadi dalam sebuah hubungan yang merujuk pada sebuah perpisahan, ujungnya pasti tak mengenakkan; kehilangan seseorang yang paling berharga.

Aku tahu, nggak pantas sekali untuk membicarakan tentang makna sebuah perpisahan yang aku sendiri pun sangat tidak menyukainya. 
Pernah mengalami, namun tidak dalam tanda kutip "berpisah secara baik-baik". 
Aku sudah tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang melukai hati. 
Karena bagaimanapun, itu semua sudah menjadi rencanaNya. 
Percuma kalau ingin mengubah haluan, mau memperbaiki keretakan yang terlanjur dibuat, kalau takdirnya sudah akan berpisah ya berpisah. 
Layaknya kaca yang rapuh, pecah berkeping-keping pun sudah tak ada artinya, tak bisa disatukan kembali seperti saat semula.

Berpisah secara baik-baik adalah sebuah omong kosong belaka bagi sebagian orang yang menutupi luka yang menganga di hatinya, bagi sebagian orang yang menutupi kesedihan akan sebuah kehilangan. 
Siapa yang mau melewati fase perpisahan? 
Siapa yang mau mengalami kegagalan? 
Siapa yang mau merasakan pedihnya kehilangan? Tidak ada.

Oleh sebagian orang, cara terbaik untuk menutupi pedihnya hati akan kehilangan adalah dengan mengatakan "kami berpisah secara baik-baik". 
Bukan tak mungkin ketika menepi dari keramaian, dia, mereka, kamu atau siapapun itu yang mengatakan berpisah secara baik-baik, yang memperlihatkan secercah senyuman di hadapan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja, justru dialah yang paling banyak menyimpan rasa sakit yang bertubi-tubi dia dapatkan. 
Percayalah, tidak ada yang namanya berpisah secara baik-baik. Perpisahan tetaplah sebuah perpisahan, nggak ada manis-manisnya, yang tersisa hanyalah sebuah kekosongan di hati.

02012019,

Cha

0 comments