Tulisan ini sudah ditulis sejak tahun lalu, sejak saya memilih untuk menjadi manusia yang tidak percaya diri. Entah kenapa pada saat itu saya selalu merasa kecil dari orang lain. Merasa bahwa segala usaha saya begitu sia-sia karena segala hal yang saya harapkan tidak pernah berjalan sesuai rencana. Hingga isi kepala saya dipenuhi oleh berbagai macam hal-hal yang memperburuk suasana hati saya dan akhirnya saya berhenti di satu titik untuk menyebut diri saya sebagai manusia yang paling tidak beruntung.
Semua itu berawal ketika saya terlalu berlebihan dalam menilai orang lain dan terlalu iri pada apa yang orang lain capai. Saya berusaha mati-matian untuk mengembalikan keadaan seperti semula, saat rasa iri itu tidak pernah menyentuh hati saya. Namun, memasuki pertengahan tahun rasa iri itu kembali muncul. Padahal saya sudah tidak ingin lagi terikat dengan hal-hal bodoh seperti itu, tapi kenapa rasa iri itu kembali datang dengan wujud yang lebih menyeramkan? Saya takut jika perasaan iri itu tumbuh menjadi kebencian terhadap orang lain, saya benar-benar takut. Melalui cerita yang diceritakan kembali oleh orang lain, saya berusaha untuk membuat diri saya tetap dalam keadaan tenang seperti tidak terjadi apa-apa padahal dada saya sesak dan suasana hati saya memburuk.
Suatu ketika, saya memutuskan untuk berhenti melakukan hal-hal bodoh seperti itu dan mengambil langkah untuk memperbaiki hidup saya dengan melakukan hal yang saya sukai, hal yang membuat saya merasa menjadi diri saya seutuhnya.
Awal tahun 2020, saya terpikir sebuah pertanyaan, kenapa kita harus membicarakan orang lain dalam hal pencapaian yang mereka raih, tindakan apa yang membuat mereka berada di titik yang selalu mereka inginkan sampai sikap mereka yang mengundang rasa iri kita sebagai manusia?
Kenapa kita harus saling menceritakan hal-hal yang termasuk ke dalam privasi seperti itu? Kenapa? Pastinya, kita semua juga memiliki privasi, dan bagaimana perasaan kita apabila ada yang menceritakan privasi yang kita miliki kepada orang lain?
Izinkan saya bermonolog.
Jujur aja.
Saya merasa terlalu banyak membicarakan kelebihan orang lain sampai lupa mengembangkan lebih dalam mengenai kelebihan saya sendiri, lebih tepatnya mengabaikan.
Saya merasa seperti terlalu banyak memikirkan orang lain dengan segudang pencapaiannya ketimbang memikirkan diri saya sendiri yang miskin dengan mimpi-mimpi, yang minim dengan pencapaian.
Saya merasa seperti terlalu banyak menyimpan rasa iri terhadap proses “kilat” yang dilalui orang lain dalam menggapai mimpi-mimpinya hingga saya sadar bahwa rasa iri itu berubah menjadi rasa tidak percaya diri karena saya malas untuk mengubah kegagalan yang pernah saya alami.
Semakin hari, saya merasa seperti kapal tanpa nahkoda di tengah lautan, terombang-ambing tak tentu arah, meskipun ada angin yang menggerakkan, tetapi jika tak ada nahkoda yang menjalankan kapal dan tak ada tujuan sebagai titik akhir tempat berlabuh, akan berlayar ke arah mana kapal itu? Lama-kelamaan, kapal itu akan rusak karena berulang kali terhempas kerasnya gelombang dan kemungkinan terburuk akan karam dengan kondisi yang tidak utuh.
Terlalu banyak keinginan untuk menjadi seperti orang lain, bukan membuat saya bergegas, tetapi justru membuat saya semakin malas. Tidak lain dan tidak bukan karena saya seringkali membandingkan diri saya dengan orang lain.
Sampai pada suatu hari, manusia yang tidak tahu bersyukur seperti saya ini disadarkan oleh Tuhan melalui seseorang. Rasanya, saya seperti ditampar oleh usaha-usaha yang dilakukannya. Saya seperti dihantam badai hingga membuat rasa-rasa “itu” luruh seketika. Mungkin, darinya, Tuhan ingin saya tidak melulu menilai orang lain berdasarkan permukaan luarnya saja. Sejujurnya, saya bukan manusia yang kuat. Beberapa saat setelah itu, saya memilih menyendiri dan membatasi pembicaraan dengan orang lain karena saya sadar bahwa saya telah menyakitinya secara tidak langsung dan tanpa ia ketahui.
Ketika saya sibuk menebarkan rasa iri dengan membicarakan pencapaian yang dia raih melalui proses yang tidak sebentar, saya justru tidak memahami bahwa yang saya lihat, dengar dan bicarakan hanya bagian permukaannya saja. Saya merasa seperti manusia yang tidak yang tahu malu. Rasa iri yang saya miliki terhadapnya yang sekian waktu berubah menjadi dengki, tidak sebanding dengan kerja kerasnya dalam merealisasikan mimpi-mimpinya.
Ketika saya menyadari bahwa saya telah melakukan sebuah kesalahan, rasanya saya tidak sanggup untuk mengajaknya berbicara atau melihat wajahnya barang sejenak. Saya merasa seperti seluruh diri saya diselimuti oleh hal-hal buruk dan tidak pantas untuk dipertemukan oleh dirinya yang dilingkupi kebaikan.
Terlepas dari itu semua, dari keburukan-keburukan yang pernah saya lakukan, saya ingin kamu memahami bahwa tidak semua yang terlihat, terdengar dan diceritakan itu benar adanya. Tidak semua hal bisa menjadi tolak ukur dalam menilai seseorang. Terkadang, bumbu-bumbu iri itu secara tidak sengaja ditambahkan pada suatu cerita hingga membuat kita menjadi ikut terlena sampai lupa bahwa kita adalah manusia, sama sepertinya.
Dia berproses, kamu juga berproses.
Hanya saja, prosesmu mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar. Lihat lebih dalam lagi, tanya hatimu, kenapa sampai detik ini proses yang kamu jalani belum menemukan titik akhir yang benar-benar jadi tujuanmu. Tanya hatimu, lebih sering.
Mungkin jawabannya bukan tentang waktu, tetapi tentang diri kamu yang berulang kali memilih mundur sebelum memulai. Tentang rasa percaya diri yang mulai pudar. Tentang keberanian yang tidak kunjung menghalau ketakutan. Tentang layu sebelum berkembang.
Sebenarnya, rasa-rasa “itu” timbul dari diri kamu sendiri. Akibat kelalaianmu dalam melindunginya dari rasa-rasa yang tidak seharusnya ada. Bukan dia atau mereka yang menjadi sumber permasalahannya, tapi dari diri kamu sendiri yang tidak mensyukuri dan menghargai sebuah proses.
Feb '19,
Cha

1 comments
Ciamik abiss. Terus berkarya Ka
ReplyDelete