Sore ini, tiba-tiba bapak duduk menghadap ke arahku dan bertanya mengenai hal yang sedang dilalui.
Saat itu aku sedang duduk sembari menyelesaikan kewajibanku di depan laptop.
"Bagaimana skripsinya? Sudah sampai mana?"
Aku menghentikan tanganku untuk mengetik, rasanya aku ingin menangis.
Air mata yang tertahan di pelupuk mataku langsung menetes begitu saja.
Aku mencoba menetralisir apa yang kurasakan.
Bapak mulai bercerita panjang lebar mengenai segala hal pengalamannya ketika berada di posisi yang sama denganku, dulu kala.
Seketika hatiku menghangat. Pengalamannya dulu jauh lebih berat dibanding apa yang aku rasakan saat ini, tapi aku nggak sekuat beliau yang selalu bertahan dalam keadaan yang lebih rumit daripada keadaanku saat ini.
"Dulu, bapak cuma pakai mesin tik buat mengerjakan skripsi. Sekarang bisa dibilang enak, ada laptop.."
Merasa tertampar? Tentu saja.
Banyak hal yang beliau ceritakan, namun aku sibuk menyeka air mata yang terus mengalir. Mungkin beliau menyadari, tetapi terus lanjut bercerita.
Bapak menutup ceritanya dengan akhir yang indah.
Pada akhirnya, Bapak hanya berpesan "Tahap ini memang ujiannya adalah sabar. Bagimanapun itu, tetap dikerjakan, terus sabar.. jangan ditinggalkan. Kalau ditinggalkan, kamu akan lupa dengan semuanya, semua yang sudah kamu mulai.."
Nggak pernah merasa seterharu ini.
Nggak pernah merasa sedalam ini bicara dari hati ke hati, meskipun di sini aku hanya menjadi pendengar saja.
Secara nggak langsung merasa bersalah karena nggak pernah bisa untuk mencoba sedekat itu dengan beliau, sekedar bercerita tentang hal-hal yang sudah dilakukan selama satu hari penuh.
Bapak, sosok yang terlihat tidak peduli, namun hatinya sangat hangat.
Bapak adalah cinta pertama anak perempuannya, memang benar adanya.
Dari aku untuk kalian yang sedang merasakan hal yang sama denganku;
Memang, yang paling mengerti kita dan perasaan kita adalah orang yang sudah mengalami hal yang sama dengan apa yang kita alami.
Kadang, pertanyaan-pertanyaan menjebak dari orang yang tidak mengenal kita secara utuh membuat kita semakin terbebani.
Bertanya tapi seolah-olah menekan itu yang paling tidak manusiawi.
Kuncinya hanya satu: tidak peduli.
19.05.21
Dengan penuh rasa sayang,
Cha
Tentang Aku
Mau mengenal aku lebih dalam? Buka sosial mediaku, tapi jangan kecewa karna yang aku tampilkan terlihat sempurna tidak ada cela. Barangkali mau sharing atau discuss, boleh dm salah satu sosial mediaku.

2 comments
Emang, kadang bapak tuh suka gitu. Jarnag ngobrol, sekalinya ngomong ....
ReplyDeleteyaaa betul, sekalinya ngomong langsung masuk ke hati.
Delete