Antara Ekspetasi dan Realita




Paling cape karena apa?

Ekspetasi orang.
Ya, ekspetasi.

Berpikir bahwa hidup ini adalah milik diri kamu sepenuhnya, mungkin ekpetasi tidak benar-benar kamu khawatirkan.
Apa yang kamu harapkan dari seorang manusia? Hatinya bak malaikat? Tingkah lakunya selalu jadi contoh bagi orang lain? Atau kebaikannya yang nggak pernah berhenti?
Sejujurnya ketiga hal itu nggak bisa kamu harapkan dari seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan.

Kamu manusia sama sepertinya. Hatimu bukan spek malaikat, dia juga sama. Kamu pernah berbuat kesalahan, dia pastinya juga sama.

Lalu, apa yang kamu harapkan dari dirinya yang juga manusia sama sepertimu?

Kamu tahu apa yang bisa menghancurkanmu dalam diam? Ekspetasimu!
Terlalu meninggikan ekspetasi ke orang lain bukan membuatmu berpacu untuk menjadi lebih baik, justru akan mendatangkan rasa kecewa yang berlebihan.
Lihatlah realita yang ada. Jangan terlalu asyik hidup dalam ekspetasimu sendiri.

Sederhananya saja jika kamu berekspetasi terhadap dirimu sendiri secara berlebihan, kamu bisa kecewa.
Kenapa? Karena hal-hal yang kamu ekspetasikan ke diri kamu sendiri tidak sesuai dengan kenyataan. Karena harapanmu terlalu tinggi kamu bubung terhadap suatu hal yang belum tentu berakhir baik. Sudah banyak hal yang kamu lewati dengan ekspetasimu itu, kenapa masih saja tidak membuatmu jera? Terlalu mengharapkan sesuatu yang sempurna terhadap manusia itu nggak baik.

"Aku sudah merasakan kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.." - Ali bin Abi Thalib

Kita hidup bukan dalam dunia dongeng, nggak ada yang sempurna.. jadi jangan harap akan berakhir dengan indah.
Kita hidup juga bukan dalam dunia sandiwara, yang penuh dengan pura-pura.
Kita hidup di dunia nyata yang segala sesuatunya pasti memiliki cela, memiliki noda hitam dan memiliki sisi gelap.

Manusia itu nggak ada yang sempurna.
Pasti ada sisi gelap dan terangnya.
Punya masa lalu yang mungkin kelam.
Pernah berbuat kesalahan yang ia sesali juga.

Lantas kenapa bisa tertutupi? Mungkin karena..
Dia selalu berbicara jujur tentang dirinya, tapi kamu sebagai pendengar menutup telinga seakan-akan dia tidak memiliki gelap dalam hidupnya.
Dia selalu menunjukkan apa adanya dirinya, tapi kamu sebagai penikmat menutup mata terhadap sisi kelam yang dia tunjukkan.
Dia selalu berusaha menjadi lebih baik bukan berhenti di titik dimana dia sudah merasa puas menjadi seorang manusia, tetapi kamu sebagai manusia lainnya berekspetasi bahwa dia satu-satunya yang sempurna.. padahal nggak ada yang sempurna karena sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.

Dia hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk kamu.
Dia nggak pernah meminta takdirnya seperti ini, tetapi Tuhan yang mengarahkan jalannya.
Dia nggak pernah mengharapkan ini semua terjadi, dia hanya menjalani apa yang Tuhan beri.

Turunkan ekspetasimu karena itu yang akan menghancurkanmu.
Hidup sesuai dengan realita saja, jangan terlalu banyak berpura-pura.

8 Juni 2022,

Cha

0 comments