Merawat Kehidupan

Berhasil melewati satu fase kehidupan merupakan pencapaian terbesar untuk diri sendiri.

Entah sudah berapa jalanan terjal yang berhasil dilewati.

Entah sudah berapa kali mengorbankan perasaan sendiri.

Entah sudah berapa lemparan kerikil yang diterima sebagai luka dalam diri.

dan entah sudah berapa banyak sayatan pisau yang menggores harga diri.


Fase kehidupan itu ibarat mendaki gunung tertinggi. Tidak mudah dan penuh dengan halang rintangan.

Untuk mencapai puncak tertinggi, bekal fisik tidak cukup menjadi pondasi. Ada mental yang juga turut serta membersamai.


Kalau dijatuhkan oleh ekspetasi sendiri saja sudah membuat mentalmu koyak, bagaimana bisa kamu meneruskan perjalanan menuju puncak tertinggi yang akan kamu abadikan sebagai kepuasan dan kebahagiaan?

Kadang, jatuh itu perlu.

Kadang, luka bisa menjadi kuatmu.

Kadang juga ekspetasi yang tidak sesuai dengan harapanmu itu bisa menjadi pembelajaran berharga dalam hidupmu.


Hidup terus berjalan, waktu terus bergulir.

Bukan tidak mungkin, kamu yang hari ini jatuh akan terus jatuh di tempat dan posisi yang sama.

Bukan tidak mungkin juga kamu yang hari ini terluka akan terus terluka di bagian yang sama.

Jatuh yang hari ini kamu alami akan membuatmu paham kalau segala hal yang kamu jalani juga ada pasang surutnya, ada titik rendahnya. Tidak semuanya selalu berjalan semestinya.

Luka yang kamu dapat di hari ini mungkin akan ada bekasnya dalam bentuk trauma. Tapi, tidak semua luka tidak ada penawarnya, bukan? Tidak semua luka akan terus menempel seperti parasit, bukan?


Saat ini, semuanya tergantung pada dirimu sendiri.

Apakah terus-menerus ingin jatuh di tempat dan posisi yang sama atau bersiap untuk bangkit dan memulai pada lembaran baru?

Apakah terus-menerus ingin membiarkan luka itu menganga, bernanah, menjadi busuk dengan tidak merawatnya atau mencarikan penawar dan menutup luka itu dengan plester hingga sembuh?


Semuanya tergantung pada dirimu sendiri.


Jan '25. 19.27 pm


Cha


0 comments