Hari ini, hari kedua di 2018.
Bertemu denganmu, memandangmu lekat, hingga menyimak suaramu yang bagiku kadang terdengar seperti saat Ed Sherran menyenandungkan lagunya yang bertajuk Perfect, merdu dan syahdu.
Bertemu denganmu, memandangmu lekat, hingga menyimak suaramu yang bagiku kadang terdengar seperti saat Ed Sherran menyenandungkan lagunya yang bertajuk Perfect, merdu dan syahdu.
Lantas, bagaimana dengan perasaanku padanya?
Entahlah. Gamang. Perasaanku padanya layaknya senja di ujung barat, perlahan menghilang dilahap langit malam.
Seperti masih ingin memiliki, namun, tak sanggup untuk berjuang (lagi).
Seperti masih ingin menyayangi, namun, ada ruang yang membatasi, semacam pertahanan diri untuk tidak ingin bertatap muka lagi dengannya.
Seperti masih ingin merinduinya, namun, pikiranku seakan menyuruhnya untuk pergi menjauh.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Atmosfer di sekitarku mendadak berubah dingin, seperti sikap yang selama ini kau tunjukkan kepadaku, dingin bak es.
Seolah ikut campur dengan atmosfer di sekitarku, langit pun mendadak berubah gelap, bulir-bulir air turun membasahi tanah.
Bayangan tentangmu, tentang perasaan yang selama ini dipendam, sepenuhnya larut dalam kubangan air hujan yang turun dengan derasnya.
Tak ada lagi kamu, tak ada lagi perasaan, semuanya hilang tak berbekas.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Selamat kuucapkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
Tak ada lagi yang kamu perlu khawatirkan.
Tak ada lagi yang harus kamu tunggu.
Kamu bebas, kamu berhak mendapatkan yang lebih layak untukmu.
Kamu hebat, kamu sudah tak lagi membayanginya.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Hari-hari menyenangkanmu sudah dimulai, tidak ada lagi hari untuknya melainkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
02012018,
//rzk//
Entahlah. Gamang. Perasaanku padanya layaknya senja di ujung barat, perlahan menghilang dilahap langit malam.
Seperti masih ingin memiliki, namun, tak sanggup untuk berjuang (lagi).
Seperti masih ingin menyayangi, namun, ada ruang yang membatasi, semacam pertahanan diri untuk tidak ingin bertatap muka lagi dengannya.
Seperti masih ingin merinduinya, namun, pikiranku seakan menyuruhnya untuk pergi menjauh.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Atmosfer di sekitarku mendadak berubah dingin, seperti sikap yang selama ini kau tunjukkan kepadaku, dingin bak es.
Seolah ikut campur dengan atmosfer di sekitarku, langit pun mendadak berubah gelap, bulir-bulir air turun membasahi tanah.
Bayangan tentangmu, tentang perasaan yang selama ini dipendam, sepenuhnya larut dalam kubangan air hujan yang turun dengan derasnya.
Tak ada lagi kamu, tak ada lagi perasaan, semuanya hilang tak berbekas.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Selamat kuucapkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
Tak ada lagi yang kamu perlu khawatirkan.
Tak ada lagi yang harus kamu tunggu.
Kamu bebas, kamu berhak mendapatkan yang lebih layak untukmu.
Kamu hebat, kamu sudah tak lagi membayanginya.
Hari ini, hari kedua di 2018.
Hari-hari menyenangkanmu sudah dimulai, tidak ada lagi hari untuknya melainkan untukmu, pejuang tangguh yang hatinya sangatlah rapuh.
02012018,
//rzk//

0 comments